“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count
is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Jangan sekedar transfer ilmu namun guru harus bisa memberikan pemahaman bermakna untuk peserta didik agar dengan ilmunya mereka bisa memberikan manfaat untuk orang-orang disekelilingnya dimanapun mereka berada. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai suatu upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Tujuan pendidikan sendiri menurutnya terbagi menjadi 3, yaitu membentuk budi pekerti yang halus, meningkatkan kecerdasan otak, dan mendapatkan kesehatan badan.
Jelas dari ke-3 tujuan pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara menyiapkan manusia yang bisa berharga untuk diri dan lingkungannya. Bukan hanya pintar, cerdas otaknya saja namun manusia juga haruslah mempunyai budi pekerti yang halus, baik. Bisa dibayangkan bagaimana jika manusia tidak mempunyai budi pekerti yang halus maka dia tidak akan berharga, dia akan dijauhi oleh oranglain. Tidak kalah penting tujuan pendidikan itu untuk mendapatkan kesehatan badan. Orang cerdas namun sakit-sakitan maka tidak akan memberikan banyak manfaat dibanding dengan orang sehat. Karakter haruslah dibangun, bukan sekedar mengandalkan petunjuk Tuhan, Tuhan akan senantiasa melihat upaya manusia dalam setiap langkah kehidupannya. Maka dengan belajar orang itu tengah berupaya menjadi baik dalam segala hal, bukan sekedar tahu saja.
Nilai-nilai kebajikan harus tetap menjadi acuan karena kita sebagai manusia haruslah tetap memanusiakan manusia. Nilai kebajikan akan menjadikan manusia berperilaku baik dan taat, bukan hanya pada hukum, namun diri sendiri dan juga taat pada aturan yang datangnya dari Tuhan maupun manusia. Bukan hanya untuk bawahan namun juga seorang pimpinan. Tetap mengedepankan rasa kemanusiaan, bukan saya orang yang berilmu atau saya lebih tahu. Keputusan yang diambil haruslah memberikan maslahat bagi siapapun. Pilihan yang banyak maslahat itu harus diambil meskipun mayoritas orang memilih dengan maslahat yang sedikit.
Prinsip hajat hidup orang banyak belum tentu sejalan dengan dengan nilai kebajikan, orang banyak bersuara belum tentu itu adalah kebenaran. Lingkungan harus bisa menjadi baik yang asalnya kurang baik, jadi lebih baik yang asalnya baik. Di tangan orang-orang yang mengusung nilai-nilai kebajikanlah hal itu bisa terealisasi.
Education
is the art of making man ethical.
Pendidikan
adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
Georg
Wilhelm Friedrich Hegel
Pendidikan tidak bersifat kaku harus turun temurun
seperti budaya. Namun pendidikan adalah seni yang harus diukir sebaik dan
seindah mungkin agar orang menikmati hasil seni itu takjub dan terkagum-kagum.
Hasil pendidikan haruslah membuat seseorang memiliki nilai jual di
tengah-tengah masyarakat, menjadi manusia yang mempunyai nilai jual dalam
sikap, ucap dan perbuatan. Seni kerap sekali dihasilkan dari orang-orang yang
memang ahli dalam pembuatannya. Tidak semua orang bisa menghasilkan lukisan,
patung, atau karya indah lainnya. Begitu juga pendidik, tidak semua orang mampu
menjadi pendidik karena mendidik adalah sebuah seni untuk menghasilkan manusia
yang indah dalam ucapan dan perbuatan. Bagaimana seorang guru mempersiapkan seorang
manusia untuk bisa memanusiakan manusia lainnya.
Menjadi pengajar yang terus belajar adalah motivasi murni yang berlandaskan nilai-nilai spiritual (nilai kebajikan). Inilah yang disebut Ihsan dalam kacamata Sumber Daya Manusia (SDM). Pepatah mengatakan "Biarkan dirimu ditarik secara diam-diam oleh tarikan yang lebih kuat dari apa yang benar-benar engkau cintai (ilmu)".
BalasHapus