Jurnal Dwi Mingguan Modul 1.2
Modul 1.2 yang tengah saya pelajari yaitu nilai dan
peran guru penggerak. Didalamnya mempelajari bagaimana nilai dan peran yang
harus dimiliki seorang guru penggerak di masa yang akan datang. Jika di modul
1.1 mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang didalamnya ada
konsep pembelajaran berpihak pada murid, maka dari kelima nilai yang harus
dimiliki seorang guru penggerak semuanya bermuara pada “berpihak pada murid”.
Sementara nilai yang empat poinnya yaitu, inovatif, kolaboratif, mandiri, dan
reflektif. Sedangkan peran dari guru penggerak itu ada 5:
1. Menjadi
pemimpin pembelajaran
2. Menjadi
coach bagi guru lain
3. Mendorong
kolaborasi
4. Mewujudkan
kepemimpinan murid (student agency)
5. Menggerakan
komunitas praktisi
Ing Ngarso Sung Tulodo artinya nmenjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri
tauladan. Ing Madyo Mbangun Karso, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu
membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani, seseorang
harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.
Demikian ajaran yang digunakan Ki Hadjar Dewantara pada saat mendidik
murid-muridnya dikala itu. Maka bagi guru penggerak hal ini tidak hanya berlaku kepada muridnya
saja, akan tetapi berlaku kepada rekan-rekan guru yang lain. Bagaimana dia
menjadi suri tauladan, bagaimana dia bisa menggugah rekan guru lain untuk mau
berubah, bagaimana dia memberikan moral, memotivasi dan mendampingi bahkan
menuntun guru-guru yang mau belajar dan mau berubah.
Bahagia sekali bisa mempelajari modul 1.2 ini, yang
ternyata guru penggerak disiapkan untuk menanamkan pemahaman Ki Hadjar Dewantara
yang dimulai dari dirinya sendiri dan diharapkan menggerakan guru-guru yang ada
di sekolah seperti slogan guru penggerak Bergerak, Tergerak, Menggerakan.
Bersyukur berada di lingkungan yang mendukung, pimpinan yang mensuport penuh
pendidikan yang tengah dijalani, sehingga sedikit demi sedikit ilmu yang sudah
didapat bisa diterapkan dan diseminasikan kepada rekan guru di sekolah. Perlu
lebih memperdalam dan mencari referensi lain untuk bisa benar-benar menerapkan
konsep KHD dalam pembelajran di kelas. Belum lagi tanggung jawab untuk
menggerakan rekan-rekan yang mempunyai visi berbeda-beda dalam mengabdikan
dirinya untuk pendidikan. Namun tetap harus berusaha dan berupaya, meniti
puncak keberhasilan tidak mungkin bisa instan, namun perlu satu langkah atau
satu anak tangga kemudian langkah kedua untuk anak tangga berikutnya. Lebih
baik mencoba daripada diam tidak bergerak sama sekali.
Dari ke lima nilai guru penggerak sudah saya coba lakukan,
walaupun hasilnya harus didiskusikan dengan orang yang berpengalaman. Inovatif
dalam memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang tersedia untuk dipakai dalam
pembelajaran, menggunakan inovasi-inovasi baru dalam memberikan materi ajar. Kolaboratif
dalam menelaah capaian pembelajaran, kolaboratif dalam melakukan refleksi
pembelajaran, kolaboratif dengan orangtua dalam memahamkan peserta didik. Mandiri
dalam mencari referensi sumber ajar, mandiri dalam meningkatkan kompetensi
dengan mengikuti webinar-webinar. Reflektif, malakukan refleksi akhir
pembelajaran, refleksi yang melibatkan rekan guru dan kepala sekolah, refleksi
akhir kegiatan, refleksi program yang tengah berjalan. Sedangkan untuk berpihak
pada murid masih harus belajar lebih dalam lagi, karena yang dilakukan takutnya
itu tidak berpihak pada murid.
Sedangkan untuk peran guru penggerak yang sudah dilakukan:
1. Menjadi pemimpin pembelajaran
Pengalaman adalah guru terbaik, karena mayoritas guru yang ada adalah guru baru maka peran saya di dalam komunitas yaitu berbagi praktik baik pengalaman bagaimana menghadapi berbagai fenomena didalam pembelajaran maupun komuniksi dengan orangtua. Namun tidak jarang kamipun berbagi praktik baik atas apa yang sudah dilakukan di kelas.
2. Menjadi coach bagi guru lain
Tantangan yang dihadapi guru baru adalah kepercayaan diri yang belum terbangun, rasa was-was takut salah langkah, dan lain sebagainya. Maka disinilah peran saya untuk mengcouch guru baru dalam mencari solusi permasalahan yang dihadapinya.
3. Mendorong kolaborasi
Kolaborasi hal yang sangat penting dalam membangun satu komunitas. Saling melengkapi, saling merefleksi, saling mendorong. itu yang setiap hari kami upayakan di sekolah. begitu juga keterlibatan orangtua dalam hal pembelajaran.
4. Mewujudkan kepemimpinan murid (student agency)
Pembelajaran yang berpusat pada murid, murid tidak lagi hanya dijejajali soal latihan dan menulis dengan materi yang sama. Namun murid diberikan kepercayaan untuk belajar secara mandiri, bagaimana mereka bisa memahami pembelajaran yang diberikan, bagaimana caranya supaya mereka bisa menguasai tujuan pembelajaran.
5. Menggerakan komunitas praktisi
Komunitas praktisi yang dijalani masih sebatas lingkup sekolah, belum sampai luar sekolah. Karena ketika akan menggerakan komunitas yang paling utama itu adalah satu visi, satu pemikiran, berangkat dari niat yang sama untuk memajukan pendidikan Indonesia, untuk menyiapkan generasi masa depan, bukan untuk mengejar prestise, bukan mengejar karir, bukan untuk sekedar pemenuhan administrasi.
Guru Penggerak, Bergerak, Tergerak, Menggerakan!!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar