Anak
adalah sosok pribadi yang unik, satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan
dalam banyak hal. Perbedaan dari karakter, pribadi, sosial dan juga perbedaan
dari hal bagaimana mereka belajar. Sering kali hal itu tidak kita sadari,
sehingga dalam memberikan pelayanan dalam memberikan pengajaran mereka
disamaratakan baik dalam materi, cara maupun penilaian akhir. Ternyata
kebutuhan belajar peserta didik bukan hanya didasarkan pada usia saja, ada 3
hal yang perlu diperhatikan, yakni: kesiapan belajar, minat dan profil belajar.
Ketiga
hal ini yang harus diperhatikan oleh guru ketika akan mengampu satu materi
pelajaran. Sehingga ketika sudah terpetakan guru bisa menentukan apa dan
bagaimana seharusnya mengajar di kelas mereka. Hal ini yang dinamakan dengan
pembelajaran berdiferensiasi. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan pada saat
menerapkan diferensiasi dalam pembelajaran: konten, proses dan produk.
Selaras
dengan konsep Ki Hadjar Dewatara dimana pembelajaran berpusat pada pesert didik,
artinya guru harus mengutamakan kemampuan dan kebutuhan peserta didik, bukannya
peserta didik dipaksa untuk mengikuti semua kemauan guru seperti sebuah umpama
guru (digugu ditiru). Apabila dilihat dari nilai-nilai guru penggerak berpihak
pada peserta didik ada di urutan pertama kemudian diurutan berikutnya ada reflektif,
kolaboratif, mandiri dan inovatif. Bahkan 4 peran dari guru penggerak salah
satunya yaitu mewujudkan kepemimpinan peserta didik (Student agency). Bagaimana
meramu pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga peserta didik merasa
kompeten, mandiri, dicintai, dan memiliki kepercayaan diri serta determinasi
untuk mencapai segala yang mereka impikan, tentunya itu semua tidak serta merta
peserta didik dapatkan jika mereka merasa tertekan, terintimidasi, terpaksa dan
takut. Pembelajaran diferensiasi inilah jembatan untuk mewujudkan kepemimpinan peserta
didik baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
Ing Ngarso Sung Tulodo artinya menjadi
seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan. Ing Madyo
Mbangun Karso, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga
mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani,
seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.
Demikian ajaran yang digunakan Ki Hadjar Dewantara pada saat mendidik peserta
didik-peserta didiknya dikala itu. Maka pembelajaran diferensiasi yang
didalamnya ada konten, proses dan produk itu harus senantiasa mengacu pada slogan
tersebut. Guru haruslah bisa membangkitkan, menggugah dan membakar semangat peserta
didik kemudian mendorong semangat mereka dalam belajar yang tentunya itu didasari
pada kekuatan yang mereka miliki.
Tripusat Pendidikan meliputi
keluarga, masyarakat dan sekolah. Ketiga komponen ini tentunya harus bersinergi
dalam membentuk karakter anak dan hasil belajar yang bisa memberikan manfaat
untuk masyarakat sekitar. Keluarga dan masyarakat mempunyai peran yang tidak
kalah penting, bukan hanya tanggungjawab sekolah mencetak generasi-generasi
masa depan yang bisa bernalar kritis, menyelesaikan permasalahan yang terjadi
di lingkungan, menjadi pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. Jika sekolah
tempat mereka mencari ilmu pengetahuan, maka masyarakat itulah tempat mereka
mengaplikasikan ilmu yang didapat dari bangku sekolah. Jika mereka datang ke
sekolah karena paksaan, maka hasilnya hanya sebatas paksaan, tapi jika sekolah
itu dianggap satu kebutuhan tempat menyenangkan maka mereka akan datang dengan
sepenuh hati dan berupaya memenuhi kebutuhan yang mereka perlukan.
Perlu upaya keras dari guru
untuk mendapatkan informasi apa yang menjadi kesiapan, minat dan profil belajar
peserta didik. Perlu pendekatan persuasif untuk mendapatkan informasi jelas tiap-tiap
peserta didik yang akan kita ajar. Bisa melalui wawancara, angket, melihat
rapor kelas sebelumnya, atau bertanya pada guru sebelumnya. Terlebih peserta didik
baru apakah pada saat tahun ajaran baru ataupun peserta didik mutasi. Dengan
demikian diharapkan guru bisa mengetahui potensi apa yang sebetulnya dimiliki
setiap individu siswanya, sehingga bisa menyiapkan rencana pembelajaran yang
sesuai dengan tahap perkembangan atau kemampuan yang dimiliki setiap siswa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar