Pada dasarnya manusia bertindak atas dasar suatu keinginan, keinginan
itu bisa diketahui secara langsung oleh orang lain bisa juga tidak, sehingga
bisa menimbulkan prasangka yang tidak baik jika orang lain tidak tahu motivasi
dari seseorang melakukan tindakan. Ada 5 dasar motivasi yang mempengaruhi
tindakan manusia:
1.
Kebutuhan
untuk bertahan hidup (survival),
2.
Kasih
sayang dan rasa diterima (love and belonging),
3.
Kebebasan
(freedom),
4.
Kesenangan
(fun), dan
5.
Kenguasaan
(power).
Ketika seorang
murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan,
atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi
kebutuhan dasar mereka. Namun yang terjadi kita lebih cenderung memberikan
hukuman ataupun penghargaan yang padahal keduanya bisa berdampak negatif, yaitu
ketergantungan dan hanya patuh pada waktu dan sosok yang berpengaruh. Dalam hal
pendisiplinan guru biasanya melakukan sesuatu, Gossen berkesimpulan ada 5
posisi yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan
kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah:
1.
Penghukum,
2.
Pembuat
rasa bersalah,
3.
Teman,
4.
Pemantau
dan
5.
Manajer.
Penghukum: Seorang
penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.
Pembuat merasa bersalah:
pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah
akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman,
bersalah, atau rendah diri.
Teman: Guru pada
posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol
murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif.
Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru
di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi
seseorang.
Pemantau: Memantau
berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas
perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada
peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi,
kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang
yang menjalankan posisi pemantau.
Posisi terakhir,
Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid,
mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar
dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Pada saat posisi
guru sebagai manajer maka murid perlu memahami dan meyakini nilai-nilai
kebajikan universal yang itu semua perlu menjadi keyakinan dalam kelas,
keyakinan kelas yang dibuat berdasarkan keyakinan bersama diambil dari
kebajikan universal. Ketika menjadi posisi manajer maka seorang guru perlu
melakukan segitiga restitusi dalam menyelesaikan satu permasalahan yang terdiri
dari:
1.
Menstabilkan
Identitas (Stabilize the Identity)
2.
Validasi
Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior)
3.
Menanyakan
Keyakinan (Seek the Belief)
Salah satu
filosofi yang begitu dikenal dari Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung
Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani berarti yang
sebagai pendidik, di depan harus memberi teladan, di tengah harus membangun ide
dan gagasan, dan di belakang harus bisa memberikan motivasi dan dukungan kepada
murid-muridnya. Bagaimana seharusnya seorang pendidika itu menjadi teladan, dia
akan dilihat oleh muridnya, dia akan dilihat oleh prangtua muridnya, dan dia
juga akan dilihat oleh masyarakat luas bahwa dia adalah seorang pendidik atau
guru. Maka beri teladan atau contoh yang baik dalam setiap sendi kehidupannya.
Bagaimana seorang guru itu bisa memberi ide gagasan kepada muridnya, murid
bukan hanya dijejali materi pelajaran tanpa diberikan kebebasan untuk berfikir
dan mengembangkan kemampuan dan rasa ingin tahunya. Guru juga harus menjadi
seorang motivator yang handal dalam memberikan support kepada muridnya
untuk sampai pada cita-citanya.
Disinilah peran
guru yang sebenarnya, bukan sekedar gugur kewajiban, absen, ceramah di depan
murid, berikan ulangan, kemudian nilai dan pulang seolah tanpa beban. Guru
penggerak harus bisa merubah paradigma itu semua, maka seorang guru penggerak
dididik untuk bisa bernilai:
1.
Berpihak
pada murid,
2.
Reflektif,
3.
Mandiri,
4.
Kolaboratif,
serta
5.
Inovatif.
Selain itu seorang
guru penggerak harus berperan dalam:
1.
Menjadi
pemimpin pembelajaran
2.
Menjadi
coach bagi guru lain
3.
Mendorong
kolaborasi
4.
Mewujudkan
kepemimpinan murid (Student Agency)
Dalam bertindak
sebagai agen perubahan seorang guru penggerak harus punya visi tersendiri,
tentunya visi ini diseleraskan juga dengan visi sekolah yang sudah ada.
Seseorang tanpa cita-cita maka tidak akan ada semangat atau upaya dalam
meraihnya.
Pada saat
mewujudkan visi perlu tahapan-tahapan tersendiri yang harus dilalui supaya
terarah dan tolok ukurnya menjadi jelas. Salah satu yang digunakan oleh guru
penggerak dalam mewujudkan visi ini dengan menggunakan Inkuiri Apresiatif
melalui pendekatan BAGJA. Perlu diketahui Inkuiri Apresiatif ini lebih kepada
menggali potensi yang ada atau sisi positif yang menjadi kekuatan di dalam satu
lembaga atau sekolah, sehingga potensi ini bisa dioptimalkan dalam mewujudkan
visi sekolah. Banyak permasalahan yang muncul di tiap-tiap sekolah, terlebih
dengan adanya Rapor Pendidikan disana tergambar hal-hal yang harus dibenahi
jika capaiannya belum sampai memenuhi target yang diinginkan.
Selesaikah dengan
urusan Rapor Pendidikan sekolah? Tentu tidak, capaian mulia Pendidikan saat ini
adalah membentuk pelajar yang berprofil Pancasila.
1.
Beriman
bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa
2.
Berkebhinekaan
Global
3.
Mandiri
4.
Gotong
Royong
5.
Kreatif
6.
Bernalar
Kritis

Jika berbicara
masalah Profil Pelajar Pancasila, maka kita tengah berbicara tentang karakter.
Karakter lebih kepada sikap keseharian mereka, baik dari perilaku ataupun tutur
kata di lingkungan sekolah, keluarga begitu juga masyarakat. Penanaman atau
penguatan karakter ini bukan hanya sebatas teori, namun lebih kepada aplikasi
dalam kehidupan nyata yang kita gunakan dengan istilah budaya positif. Dalam penerapan budaya positif di lingkungan
sekolah, perlu kolaborasi dan kerjasama serta komitmen dari semua untuk
menjalankannya. Tidak bisa jika ini dilakukan seorang guru atau hanya dalam
satu kelas saja. Maka kewajiban saya memastikan setiap guru dan di setiap kelas
mempunyai kesepakatan kelas yang akan menyadarkan peserta didik akan perilaku
yang telah diperbuatnya. Terkadang kita merasa berhasil dalam medisiplinkan
anak ketika mereka mematuhi peraturan, tapi itu bukan dari dalam diri mereka
(interinsik) melainkan dari luar diri mereka (ekstrinsik), karena figur seorang
guru atau hanya pada moment tertentu. Hukuman dan penghargaan selama ini
dianggap jitu dalam menyelesaikan satu tindakan. Tapi ternyata inipun
menimbulkan permasalahan, manakala hukuman itu dihilangkan maka anak akan
melakukan kembali hal yang dilarang dan manakala penghargaan itu dihilangkan
maka hilang juga motivasi anak untuk berbuat baik. Ketika restitusi diterapkan
disini sebenarnya terjadi dialog dalam diri seorang peserta didik, untuk
mengevaluasi atas tindakannya tanpa dipengaruhi oranglain.
Anak perlu merasa dihargai, apa yang mereka
lakukan mempunyai dasar kekuatan. Kita harus tahu akan hal itu, pastikan dialog
terbuka dengan anak pada saat ada sikapnya yang kurang baik, apakah kepada
teman, guru ataupun pada dirinya sendiri. Kita harus sabar dalam upaya mendisiplinkan
anak. Tidak harus cepat-cepat ingin ada hasilnya, tidak langsung memberi
hukuman karena pelanggaran yang dibuatnya. Ini perlu dilakukan di semua kelas
jika di sekolah, alangkah baiknya jika hal ini juga dilakukan di rumah beserta
orangtua, karena terkadang anak-anak di kelas 1 dan 2 belum begitu paham
perbuatan yang mereka lakukan apakah wajar atau tidak jika disampaikan atau
dilakukan pada ornglain. Pastikan kontroling disetiap kelas dan guru dalam
menyelesaikan suatu permasalahan.
Untuk sampai pada penyelesaian masalah dengan
segitiga restitusi yang tadi di awal disinggung maka sekolah dan setiap kelas
harus mempunyai keyakinan akan nilai-nilai kebajikan universal yang akan
digunakan. Pengalaman yang saya dapatkan pada saat menerapkan disiplin positif
diantaranya:
1.
Membuat kesepakatan kelas yang melibatkan
peserta didik.
2.
Anak-anak yang mengingatkan temannya manakala
berbuat yang negatif dengan mengatakan kesepakatan kelas kita apa? Atau coba
lihat kesepakatan kelas kita!”.
3.
Guru tidak perlu melihat poin-poin peraturan manakala
ada hal yang dilakukan anak, pastinya akan banyak poin-poin dalam peraturan
karena ada yang bersifat perintah dan ada yang bersifat larangan.
4.
Anak-anak menyadari kesalahannya dan melakukan
konsekuensi yang telah disepakati jika ada yang melanggar kesepakatan kelas.
Pada saat menjalankan budaya positif ada
perasaan menyesal, mengapa hal ini baru diketahui saat ini? Penerapan budaya
positi terlebih pada saat menjalankan restitusi ada perasaan Bahagia manakala
anak dengan terus terang mengakui kekeliruan dan memberitahu penyelesaian
dengan sendirinya, meskipun mereka mengulangi kesalahan yang sama, namun saya
yakin itulah proses mereka memperbaiki diri atas keyakinan akan nilai-nilai
kebajikan.
Hal
baik dalam menjalankan disiplin positif ini anak tahu akan kesalahannya,
perilaku saling mengingatkan yang dilakukan anak-anak di kelas ketika ada hal
dilakukan di luar kesepakatan.Adapun yang perlu diperbaiki dalam hal
disiplin positif ini lebih ke kesabaran ketika ada peserta didik yang terus
mengulang perbuatan yang sama padahal sudah beberapa kali dilakukan restitusi.
Pada saat sebelum tahu tentang restitusi kami
kerap sekali bertindak sebagai penghukum dan pembuat merasa bersalah, perasaan
senang yang didapat pada saat itu seolah berhasil, namun jadi kecewa manakala
anak melakukan pelanggaran serupa disaat saya tidak berada di sekolah.
Setelah belejar tentang disiplin positif saya
lebih cenderung menerapkan posisi kontrol sebagai manajer, pada saat
menjalankannya perasaan senang dan bahagia karena anak melakukan validasi
kekeliruannya dan mencari jalan keluar sendiri dari permasalahan yang
dihadapinya.
Perbedaannya jelas ketika menjadi penghukum
dan pembuat merasa bersalah tidak ada pembelaan yang bisa dilakukan anak,
mereka seakan jadi terdakwa di hadapan hakim yang tengah disidang. Namun dengan
posisi manajer anak bisa bercerita alasan dia berbuat, memvalidasi perbuatannya
dan mencari solusi yang harus dilakukan dengan sendirinya tanpa diberitahu.
Setiap anak mempunyai karakter dan keunikan
tersendiri, bisa jadi penerapan restitusi pada satu anak berhasil, namun ketika
pada anak lain tidak berhasil, maka kita perlu berlatih dan terus berupaya
dalam menjalankan disiplin positif ini, kolaborasi dengan rekan guru akan lebih
mendapatkan solusi manakala kita dihadapkan pada atau permasalahan yang terjadi
di kelas maupun sekolah.
Semangat terus untuk menjalankan budaya
positif di lingkungan sekolah.
Salam Guru Penggerak!