Minggu, 11 Agustus 2024

Paling Mudah Mencari Kambing Hitam

Sayyidina Ali sahabat Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup dijamannya bukan dijaman kita. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini banyak sekali orang yang menyalahkan sistem pendidikan, menyalahkan kurikulum, menyalahkan guru, menyalahkan asuhan orangtua, menyalahkan lingkungan, dan lain sebagaianya. 

Paling mudah mencari kambing hitam!

Berpikirlah secara rasional, dulu internet tidak seperti sekarang mayoritas ada dalam genggaman anak-anak. Berbagai aplikasi tersedia dalam memudahkan keperluan yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari dari mulai informasi sampai kepada jual beli. Dulu berita kita dapatkan setelah basi dalam koran, korban tertulis 500 jiwa padahal ketika baca sudah mencapai 2.500 jiwa, karena kejadian hari ini baru bisa kita dapatkan esok hari. Anak-anak belajar pada satu sumber buku paket, karena perpustakaan digital belum ada, e book belum marak. Saat ada peningkatan kompetensi guru melalui seminar guru harus meninggalkan siswanya di kelas yang hanya diberikan tugas, sekarang sudah bisa dilakukan secara online.

Bersambung .... 

Jumat, 22 Maret 2024

Koneksi Antar Materi 3.3

 “Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya.”

Ki Hadjar Dewantara

 

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Ki Hadjar Dewantara

Bapak Pendidikan mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya peserta didik di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan peserta didik di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur. Tugas seorang guru berarti menuntun anak untuk menjadi seorang yang memberikan manfaat bagi dirinya, bangsanya dan semua orang yang berada disekitarnya sesuai dengan kodrat dan kemampuan yang dimilikinya. Pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Meskpun pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga Pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak. Menurut Ki Hadjar Dewantara, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).

Maka dari itu guru diharapkan dapat memainkan peran-peran memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya. Kepemimpinan seorang guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan, dimulai dari Guru Penggerak yang telah dibekali ilmu untuk melakukan perubahan sejak masih pendidikan, apa yang dilakukan guru penggerak tidak lepas dari peran dan nilai yang dimilikinya; berpihak pada peserta didik, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Sehingga diharapkan menajdi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan peserta didik dan menggerakan komunitas praktisi. Itu semua untuk sampai pada tujuan pendidikan nasional dan mewujudkan peserta didik yang berprofil pelajar Pancasila, yang secara garis besar ada 6 dimensi:

1.   Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia

2.   Berkebhinekaan Global

3.   Bergotong Royong

4.   Mandiri

5.   Bernalar kritis

6.   Kreatif

Tidak hanya itu saja, dukungan dari kepala sekolah dan rekan guru sangat dibutuhkan untuk bisa menjalankan perannya sebagai guru penggerak. Kepala sekolah yang mempunyai kebijakan, rekan guru yang akan menjadi partner kerja. Apabila semua bisa berkolaborasi dengan baik bisa dipastikan semua permasalahan akan terasa ringan untuk diselesaikan. Bukan hanya kolaborasi saja, untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila ekosistem sekolah haruslah mempunyai kebiasaan positif dalam segala aktifitas di sekolah, kebiasaan positif ini harus dibangun semua warga sekolah yang sampai menjadi sebuah disiplin positif. Disiplin positif selalu mengedepankan sisi kemanusiaan, bahwa manusia pasti akan berbuat salah, tinggal bagaimana kesalahan yang dilakukan baik oleh peserta didik atau pendidik itu bisa menjadi poin untuk membangun kesadaran dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Disiplin positif di lingkungan sekolah dapat dimulai dari ruang kelas terlebih dahulu, dimana dengan adanya keyakinan kelas, keyakinan yang memuat kebijakan-kebijakan universal, dengan landasan itu peserta didik akan belajar mengapa hal tidak baik itu tidak boleh dilakukan. Penyelesaian masalah yang terjadi pada peserta didik tidak langsung menyalahkan dan diberi hukuman, guru perlu bertindak menjadi seorang manajer yang menyelesaikan masalah dengan segitiga restitusi:

1.   Validasi tindakan yang salah

2.   Menstabilkan identitas

3.   Menanyakan keyakinan

Dengan demikian peserta didik menyadari akan kekeliruan yang dilakukannya dan ketika keputusan diambil tidak menyisakan dendam kepada guru atau siapapun yang terlibat dalam permasalahan tersebut. Memang tidak mudah, tapi dengan terus berlatih dan memecahkan setiap permasalahan dengan segitiga restitusi semua akan terbiasa. Pendisplinan dengan cara segitiga restitusi diharapkan bukan dari faktor eksternal akibat hukuman atau hadiah, namun hadir dalam dirinya sendiri, kemauan berubah dalam dirinya. Anak bertindak pasti ada sebab, itulah yang harus disadari oleh guru, ada 5 kebutuhan dasar manusia melakukan satu tindakan:

1.   Penguasaan

2.   Kasih sayang dan rasa diterima

3.   Kesenangan

4.   Kebebasan

5.   Bertahan hidup

Dari kebutuhan dasar hidup itulah guru perlu mengetahui bagaimana memberikan pelayanan pada konsep “menuntun” dalam kegiatan pembelajaran setiap hari dikelas guru sudah seharusnya memperhatikan kemampuan setiap peserta didik, mereka datang bukan dari tempat dan lingkungan yang sama, mereka punya cara dan gaya belajar yang berbeda-beda, guru sekarang tidak menyamaratakan cara dalam memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Guru harus bisa memfasilitasi belajar peseta didik berdasarkan kemampuannya sehingga guru harus bisa memberikan pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi:

1.   Konten

2.   Proses

3.   Produk

Dengan terjadinya pembelajaran berdiferensiasi diharapkan peserta didik bisa mencapai target belajar yang ditetapkan guru.

            Tidak kalah penting pada saat pembelajaran di kelas setelah guru menerapkan diferensiasi dalam pembelajaran juga harus memperhatikan sosial emosional peserta didik, tidak fokus pada materi ajar atau nilai yang harus terpenuhi seperti sebelumnya, sehingga pembentukan karakter menjadi prioritas dalam setiap pertemuan di kelas. Anak akan kembali pada masyarakat, mereka harus tahu bagaimana harus bersikap, bagaimana mengelola emosinya, memikirkan apa dampak ke depan yang akan terjadi jika dia melakukan satu hal. Ada 5 hal yang perlu diperhatikan pada saat menerapkan pembelajaran sosial emosional:

1.   Kesadaran diri

2.   Kesadaran sosial

3.   Keterampilan berelasi

4.   Manajemen diri

5.   Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab

Kelima hal ini hendaklah terintegrasi pada saat pembelajaran di kelas, guru hendaklah menyampaikan dari setiap langkah pembelajaran yang didalamnya ada sosial emosional.

            Dalam memberikan pembelajaran guru haruslah senantiasa memperhatikan apa yang dilakukan di dalam kelas, model dan metode apa yang digunakan, sehingga anak tidak merasa bosan, sejauh mana keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, apakah hanya sekedar duduk, baca, mengerjakan tugas, nilai kemudian pulang, atau guru bisa menggali pengetahuan mereka, menciptakan rasa ingin tahu kepad peserta didik sehingga dari rasa ingin tahu ini menjadikan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat yang rasa ingin tahunya tinggi. Tentunya guru memerlukan seorang observer yang harus melihat sejauh mana keefektifan selama pembelajaran di kelasnya. Harus ada yang memantau, tidak bisa jika hanya dinilai oleh diri sendiri. Maka guru harus sadar akan perlunya supervisi akademik, supervisi akademik yang memfokuskan pada pengembangan diri bukan sekedar tuntutan administrasi. Supervisi yang harus dilakukan pada 3 tahap:

1.   Pra Observasi

2.   Observasi

3.   Pasca Observasi

Dalam kegiatan supervisi ini guru akan melihat dan mengukur kemampuan yang dimilikinya. Hendaklah pasca observasi dilakukan dengan teknik couching. Sehingga guru tidak merasa disalahkan, guru akan mengatakan hal yang dia rasa baik dan belum baik. tugas observer pada saat supervisi akademik yaitu mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat guru menyadari akan kekeliruan atau kelemahannya sehingga dia punya cara sendiri untuk memperbaiki kesalahannya tersebut.

            Dalam mengahdapi peserta didik di sekolah terkadang guru dihadapkan pada dilema etika, harus memilih diantara dua pilihan yang benar keduanya, jika permasalahan hanya sekedar benar dan salah mungkin tidak begitu sulit, namun tetap harus memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan ke depan. Sehingga perlu menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan yaitu:

1.   Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.   Menentukan siapa yang terlibat

3.   Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.   Pengujian benar atau salah

a.   Uji legal

b.   Uji regulasi/standar profesional

c.   Uji intuisi

d.   Uji publikasi

e.   Uji panutan/idola

5.   Pengujian paradigma benar lawan benar

6.   Melakukan prinsip resolusi

7.   Intervensi opsi trilema

8.   Buat keputusan

9.   Lihat keputusan dan refleksikan

Meskipun hanya sebuah metode diantara metode-metode yang ada, namun setidaknya langkah ini bisa meminimalisir akibat negatif yang ditimbulkan pasca pengambilan keputusan.

Permasalahan yang timbul di lingkungan sekolah bukan hanya berkaitan dengan prilaku peserta didik, namun dalam menjalankan programpun sekolah sering dihadapkan pada hal-hal diluar kemampuan, sehingga semua pihak harus berkoordinasi dan berkolaborasi dalam menjalankannya. Terlebih pada saat sarana dan prasarana tidak memadai. Perlu adanya pemikiran positif seperti dalam pribahasa “tak ada rotan akarpun jadi”. Warga sekolah harus bisa memanfaatkan sarana dan prasarana di sekitar atau yang dimiliki walupun itu kecil kemungkinan, semua perlu berpikir aset yang dimiliki, aset yang bisa dipergunakan. Dengan begitu sekolah akan bisa memaksimalkan program atau kegiatan yang akan dilakukan di sekolah. Aset yang ada itu meliputi:

1.   Modal manusia

2.   Modal sosial

3.   Modal politik

4.   Modal agama dan budaya

5.   Modak fisik

6.   Modal lingkungan/alam

7.   Modal finansial

Bukan hanya terfokus pada aset yang dimiliki, gurupun harus bisa memaksimalkan keterlibatan peserta didik dalam pembuatan program atau kegiatan di sekolah supaya peserta didik merasa memiliki dan mempunyai rasa tanggungjawab, ada 3 hal keterlibatan peserta didik dalam kepemimpinannya:

1.   Suara (Voice)

2.   Pilihan (Choice)

3.   Kepemilikan (Ownership)

Selama ini program yang dibuat hanya oleh guru atau kepala sekolah atau bahkan itu program yayasan tanpa melibatkan sedikitpun peserta didik, padahal pembelajaran sejatinya berpusat pada peserta didik, mereka yang punya kendali, mereka yang akan menjalani, guru sekedar menjadi fasilitator yang mengarahkan mereka untuk bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat dan menjadi pelajar yang berprofil pelajar Pancasila. 

Senin, 26 Februari 2024

Koneksi Antar Materi 3.2

 Pengelolaan Sumber Daya


Apabila kita berbicara masalah aset tentunya berbicara masalah hal yang menguntungkan, aset sering kali diidentikan dengan simpanan untuk masa depan. Aset akan keluar manakala sangat dibutuhkan penggunaannya. Apakah sekolah juga punya aset?
Ya, sekolah tentunya punya aset, aset itu yang digunakan untuk menunjang proses belajar murid-murid  di sekolah. Sekolah merupakan suatu ekosistem yang didalamnya banyak terdapat unsur baik benda hidup maupun tidak hidup. Maka tak ayal permasalahanpun kerap terjadi di tengah keberlangsungan ekosistem di dalam sekolah. Dalam menyelesaikan permasalahan yang ada setidaknya ada dua pendekatan yakni:
1. 
Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan 
2. Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach)
Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik, sedangkan pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.

Pendekatan berbasis aset digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif (IA), Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Tujuh modal utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah meminjam kerangka dari Green dan Haines (2016), meliputi:

  1. Modal Manusia
  2. Modal Sosial
  3. Modal Politik
  4. Modal Agama dan Budaya
  5. Modal Fisik
  6. Modal Lingkungan/Alam
  7. Modal Finansial
1. Modal Manusia
Kita tahu manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi akal oleh Sang Pencipta. Manusia yang menggerakan, manusia yang mengambil tindakan. Maka manusia pula yang bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan. "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Ing ngarsa sung tuladaartinya dari depan, seorang pendidik harus memberikan teladan yang baik. Ia dapat diartikan: sebagai seorang pemimpin, harus memiliki sikap serta perilaku yang patut untuk menjadi di contoh oleh pengikutnya. Ing madya mangun karsa, artinya dari tengah, seorang pendidik harus dapat menciptakan prakarsa atau ide.Tut wuri handayani, artinya dari belakang, seorang pendidik harus bisa memberi arahan. Demikian satu dari beberapa konsep pendidikan yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara. Potensi besar seorang pendidik untuk terus berupaya bukan sekedar mendorong saja, akan tetapi memotivasi dan memberi contoh untuk murid di sekolah.
Guru Penggerak tentunya modal manusia yang paling besar karena sudah dapat ilmunya dalam melakukan perubahan, terlebih mereka punya peran dalam menggerakan komunitas:
  1. Menjadi pemimpin dalam pembelajaran.
  2. Menjadi coach bagi guru lain.
  3. Mendorong kolaborasi.
  4. Mewujudkan kepemimpinan murid.
  5. Menggerakan komunitas praktisi.
2. Modal Sosial
Komunitas yang ada di masyarakat sangatlah banyak dan beragam, aset yang besar juga yang dimiliki jika sekolah punya koneksi yang bagus dengan pihak luar terlebih komunitas-komunitas yang ada kaitannya dengan pembelajaran atau pembentukan karakter peserta didik.

3. Modal Politik
Setiap kebijakan yang ada dari pemangku kepentingan semestinya bisa menguntungkan sekolah, namun tidak jarang ada beberapa hal yang dirasa kurang menguntungkan bahkan cenderung merugikan. Namun kembali lagi bahwa yang dipandang itu adalah asset-based approach sehingga ketika hal itu tidak menguntungkan bukan menjadi hal yang harus dihindari namun, harus mencari dan berupaya memaksimalkan aset yang bisa menguntungkan.

4. Modal Agama dan Budaya
Indonesia adalah negara yang kaya akan agama dan budaya, agama haruslah menjadi modal utama dalam segala hal, karena sesungguhnya setiap agama mengajarkan kebaikan dalam bersoisalisasi dan berinteraksi antar manusia. Pada profil pelajar Pancasila yang diusung pertama adalah beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia.  Kebudayaan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah buah budi manusia yang bersifat luhur dan indah, dan hasil perjuangan hidup manusia dalam menghadapi perubahan alam dan jaman. Sebagai buah budi manusia kebudayaan berupa : ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), reiegiusitas atau keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, etika susila, seni dan keindahan (estetika), dan kecapakan hidiip (life skill). Sebagai hasil perjuangan hidup manusia dalam menghadapi perubahan alam dan jaman kebudayaan berupa hasil-hasil karya manusia dari jaman ke jaman, seperti peralatan rumah tangga, perlaian perang, bentuk-bentuk nanah, dan sebgainya.

Kebudayaan selalu tumbuh dan berkembang seiring per­kembangan pikiran, perasaan, dan kemauan manusia dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.

Menurut Ki Hadjar Dewantara kebudayaan dikembangkan dengan teori TRIKON, yaitu secara kontinyu, konvergen, dan konsentris.

  1. Kontinyu artinya kebudayaan asli yaitu sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah terus menerus dan secara berkesinambungan dimunculkan.
  2. Konvergen artinya kebudayaan asli dipadukan dengan kebudayaan asing yang dipandang dapat memajukan bangsa secara selektif (dipilih dan ditolak) dan adaptif (menyatu seperti air dengan gula).
  3. Konsentris artinya menyatu dengan kebudayaan dunia (mengglobal) dengan catatan masing- masing bangsa tetap membawakan kepribadian masing-masing.
5. Modal Fisik
Secara umum sekolah yang ada di Indonesia berada pada satu bangunan dan sarana prasarana yang bisa menunjang pembelajaran dengan baik. Namun tidak jarang sarana dan prasarana menjadi kendala dalam menggapai keberhasilan dalam pembelajaran. Ketika semua bisa disiasati pasti akan ada jalan keluar, hanya bagaimana manusia menggunakan akal dan pikirannya untuk mengupayakan aset yang satu ini menjadi modal untuk merubah yang asalnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin, yang dianggapnya mustahil tidak bisa menjadi bisa.

6. Modal Lingkungan/Alam
Lingkungan/alam menyediakan tempat yang begitu luas untuk dipelajari dan diamati. Lingkungan juga menjadi PR untuk umat manusia saat ini dan masa yang akan datang. Alam bukan hanya untuk dipelajari namun dijaga dan dilindungi untuk keberlangsungan hidup manusia.

7. Modal Finansial
Finansial pasti akan diperlukan, sedikit atau banyak pasti akan memerlukan. Kerjasama dengan pihak luar pastilah membuat keuntungan besar dalam pengembangan sekolah. Tidak mengandalkan satu pihak namun bekerjasama dengan pihak-pihak luar yang mempunyai kepentingan sama.

Dalam pengambilan keputusan di sekolah hendaklah memperhatikan 7 modal tersebut dan tentunya hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketika permasalahan tersebut mengandung dilema etika, maka ada langkah yang harus diambil, diantaranya:
  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.
  2. Menentukan siapa yang terlibat.
  3. Mengumpulkan fakta yang relevan
  4. Pengujian benar atau salah.
  5. Pengujian benar lawan benar.
  6. Melakukan prinsip resolusi.
  7. Investigasi opsi trilema.
  8. Buat keputusan.
  9. Refleksikan hasil keputusan.
Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal. Karena Pancasila telah mengamanahkan kita untuk selalu berbuat baik dimanapun dan kapanpun kita berada.


 

Senin, 19 Februari 2024

Jurnal Refleksi Rukol 3.2

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Setelah pembelajaran hari ini saya memahami bahwa manusia diberikan akal untuk berpikir dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi, jangan mudah menyerah, jangan terlalu berpangku tangan pada sesuatu yang belum jelas namun upayakan setiap kemampuan yang dimiliki sebagai modal untuk meraih kesuksesan dalam segala hal. Terkadang hal ini dilakukan manakala kita dihadapkan pada sesuatu yang harus dilakukan namun sarana atau prasarana tidak ada, sehingga cukuplah mengatakan TIDAK MUNGKIN. Padahal jika kita berpikir aset, maka apapun permasalahan yang sedang dihadapi pasti ada jalan keluar. Hanya saja kita tidak menyadari atau tidak serius dalam menangani permasalahan tersebut, bisa juga karena tidak ada dukungan dari pihak lain atau juga pemimpin dimana kita berada. Sekolah merupakan suatu ekosistem yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang bisa menunjang dalam keberhasilan pendidikan dan pengajaran. Perlu kerjasama semua pihak, perlu satu pemikiran yang sama dalam menangani setiap permasalahan. Baik yang dihadapi guru maupun kepala sekolah. Setiap manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan, singkirkan kekurangan perkuat kelebihan karena hal itu yang akan menjadi energi positif dimanapun kita berada.

Perasaan saya setelah melakukan pembelajaran hari ini semakin terbuka dan percaya bahwa setiap masalah yang timbul di sekolah bisa terselesaikan dengan memaksimalkan aset setiap orang yang terlibat didalamnya dan lingkungan di sekitar. Tanpa disadari hal inipun pernah dilakukan, bahkan setiap sekolah pasti pernah melakukan, hanya saja sebelum mempelajari modul ini belum optimal, hanya sekedar MEMANFAATKAN. Namun kini sudah mengetahui bahwa pendekatan berbasis aset (asset-based approach) dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Jauh berbeda dengan pendekatan berbasis kekurangan (deficit-based approach) hanya memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Sehingga hasilnyapun tidak akan memuaskan, pasti akan menyerah pada keadaan dan bisa "kalah sebelum berperang".

Setelah pembelajaran hari ini, saya akhirnya mampu untuk bisa melihat segala sesuatu pada sisi positif, dan terus mengupayakan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki sekolah sebagai modal untuk bisa melakukan dan menjalankan setiap program. Guru, orangtua dan lingkungan menjadi aset berharga yang harus dicari dan digali potensinya untuk dipersiapkan jika satu saat dihadapkan pada satu permasalahan yang dirasa menemukan jalan buntu. Koordinasi dan komunikasi merupakan modal penting juga dalam memaksimalkan aset-aset yang dimiliki, karena sebaik apapun aset jika komunikasi tidak berjalan baik maka hasilnya tidak akan seperti yang diinginkan.

Setelah melakukan pembelajaran hari ini, target saya berikutnya adalah bagaimana mendiseminasikan kepada rekan guru terkait dengan modul 3.2 ini. Karena pada dasarnya merekapun harus tahu akan potensi dirinya dan dijadikan rekan kerja yang akan satu visi dalam mengahadapi setiap permasalahan di sekolah. Selain itu akan senantiasa memanfaatkan 7 modal yang dipelajari pada modul ini yang bisa dijadikan aset berharga:
1. modal manusia,
2. modal sosial,
3. modal politik,
4. modal agama dan budaya,
5. modal fisik,
6. modal lingkungan/alam,
7. modal finansial.
Pastikan setiap warga sekolah untuk selalu memaksimalkan aset yang dimiliki, potensi positif yang dikuasai, bukan menyerah pada keadaan, buka pasrah pada kemampuan namun harus mampu berdikari berdiri di bawah kaki sendiri dengan dukungan penuh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam menentukan segala kebijakan.

Kamis, 15 Februari 2024

Pendidikan Pasca Pemilu

Ganti Presiden ganti Menteri berarti ganti kurikulum! Statment yang kerap terdengar atau terbaca di media sosial. Lalu apa yang akan terjadi pasca pemilu di 2024?

Menarik untuk disimak, gonjang ganjing di tengah kegalauan semua insan pendidik terkait dengan kurikulum merdeka yang saat ini tengah dijalani. Tidak sedikit yang ingin kembali ke kurikulum yang lama, namun tidak sedikit juga yang terus berupaya mempertahankan agar terus berjalan karena sudah terasa dan paham akan esensi kurikulum merdeka.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sedangkan menurut para ahli:
Menurut Ralph Tyler (1949) kurikulum mencakup tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengalaman pendidikan yang disediakan untuk mencapai tujuan, cara mengorganisasikan pengalaman pendidikan tersebut secara efektif, serta indikator penentu bahwa tujuan tersebut telah tercapai.

Pengertian kurikulum menurut James B McDonald (1964) merujuk pada empat model sistem dalam persekolahan, yaitu kurikulum, pengajaran (instruction), mengajar (teaching), dan belajar (learning).

Mauritz Johnson (1967) mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat tujuan belajar yang terstruktur sehingga dalam arti tersebut kurikulum berkenaan dengan tujuan bukan dengan kegiatan. Adapun unsur kurikulum di antaranya struktur output pembelajaran, aspek formulasi, struktur karakteristik, instruksi, evaluasi, dan kriteria instruksi evaluasi kurikulum.

Sedangkan menurut Jack R Frymier (1967) unsur dasar penyusun kurikulum ada 3 yaitu aktor, artefak, dan pelaksanaan. Adapun aktor merujuk pada orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan, artefak adalah isi dan rancangan kurikulum, lalu pelaksanaan merujuk pada proses interaksi antara aktor yang melibatkan artefak.

Menurut Murray Print, sebuah kurikulum meliputi beberapa hal di antaranya perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil implementasi dokumen yang telah disusun.

Menurut Harold Alberty (1965) pengertian kurikulum merujuk pada semua kegiatan yang disediakan sekolah bagi siswanya. Dalam hal ini kurikulum tidak hanya sebatas mata pelajaran, tetapi juga berbagai kegiatan lain yang diselenggarakan oleh sekolah.

Menurut Hilda Taba (1962) pengertian kurikulum adalah suatu rencana pembelajaran. Oleh karena itu, apa yang diketahui tentang proses pembelajaran dan perkembangan individu mempengaruhi pembentukan kurikulum.

Menurut J. Lloyd Trump dan Delmas F Miller (1973) definisi kurikulum adalah semua hal yang mampu mempengaruhi proses pembelajaran, termasuk metode mengajar, cara evaluasi murid, program studi, bimbingan dan penyuluhan, supervisi, administrasi, serta hal-hal struktural terkait waktu, jumlah ruangan, dan kemungkinan siswa dalam memilih mata pelajaran.

Menurut John Foxton Kerr (1968) pengertian kurikulum merujuk pada semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara individu atau kelompok, baik yang dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah.

Menurut Peter F Olivia (1982) pengertian kurikulum adalah rencana untuk semua pengalaman yang ditemui siswa di bawah arahan sekolah.

Menurut Hamid Hasan dalam Hernawan (2008) menyatakan istilah kurikulum dalam 4 dimensi pengertian. Keempat dimensi tersebut adalah:

  • Kurikulum sebagai suatu ide.
  • Kurikulum sebagai rencana tertulis perwujudan dari ide.
  • Kurikulum sebagai suatu kegiatan, realita, dan implementasi.
  • Kurikulum sebagai suatu hasil konsekuensi dari suatu kegiatan pembelajaran
Sedangkan tujuan dari kurikulum merdeka adalah:

  • Membentuk SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi
  • Menyiapkan bangsa untuk menghadapi tantangan global era revolusi 4.0
  • Menguatkan pendidikan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila
  • Menjadi kurikulum baru yang sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21
  • Menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi peserta didik dan guru
  • Menekankan pendidikan Indonesia pada pengembangan aspek keterampilan dan karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia
  • Meningkatkan kualitas pembelajaran
  • Membentuk karakter siswa yang mandiri
  • Mengurangi kesenjangan dalam pendidikan
  • Membuat sekolah dan pemerintah daerah memiliki otoritas untuk mengelola sendiri pendidikan yang sesuai dengan kondisi di daerahnya masing-masing.
Kurikulum Merdeka juga bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran siswa yang holistik dan kontekstual. Sehingga pembelajaran semakin bermanfaat dan bermakna bagi siswa, bukan hanya sekedar hafal materi saja. Kurikulum Merdeka juga memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik.
Kurikulum harus bersifat dinamis, artinya kurikulum selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat kecerdasan peserta didik, kultur, sistem nilai, serta kebutuhan masyarakat. 
Pemikiran dari Ki Hajar Dewantara yang berkaitan dengan pendidikan bagi peserta didik yaitu pendidikan dan pengajaran yang harus berpegang pada kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik. Kemudian satu ungkapan lagi yang dikatakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib "Didiklah anakmu sesuai jamannya karena mereka bukan hidup di jamanmu."
Banyak pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang ingin diterapkan dalam kurikulum merdeka. Kita harus paham dulu jalan pemikiran KHD, yang ternyata konsep-konsep Pendidikan dan Pengajaran yang beliau utarakan itu masih sejalan dengan apa yang terjadi saat sekarang. Apakah akan kembali dengan kurikulum lama atau tetap mempertahankan kurikulum merdeka dengan upaya memperbaiki kekurangannya, kita lihat saja pada saatnya nanti setelah kabinet baru terbentuk. Mau apa dan bagaimanapun tugas guru tetap sama menyiapkan generasi penerus bangsa yang diharapkan membuat negara Indonesia di kemudian hari menjadi baldatun thoyyibatun warabbun ghofuur.

Paling Mudah Mencari Kambing Hitam

Sayyidina Ali sahabat Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup dijamannya bukan dijaman kita. Fenomena yan...