Pengelolaan Sumber Daya
Apabila kita berbicara masalah aset tentunya berbicara masalah hal yang menguntungkan, aset sering kali diidentikan dengan simpanan untuk masa depan. Aset akan keluar manakala sangat dibutuhkan penggunaannya. Apakah sekolah juga punya aset?
Ya, sekolah tentunya punya aset, aset itu yang digunakan untuk menunjang proses belajar murid-murid di sekolah. Sekolah merupakan suatu ekosistem yang didalamnya banyak terdapat unsur baik benda hidup maupun tidak hidup. Maka tak ayal permasalahanpun kerap terjadi di tengah keberlangsungan ekosistem di dalam sekolah. Dalam menyelesaikan permasalahan yang ada setidaknya ada dua pendekatan yakni:
1. Pendekatan Berbasis
Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan
2. Pendekatan Berbasis
Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach)
Pendekatan berbasis
kekurangan/masalah (deficit-based
approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang
mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik, sedangkan pendekatan berbasis
aset (asset-based
approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr.
Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif
untuk pengembangan diri.
Pendekatan berbasis aset digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif (IA), Inkuiri Apresiatif adalah
suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif
menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya,
baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Tujuh modal utama ini
merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang
menjadi aset sekolah meminjam kerangka dari
Green dan Haines (2016), meliputi:
- Modal Manusia
- Modal Sosial
- Modal Politik
- Modal Agama dan Budaya
- Modal Fisik
- Modal Lingkungan/Alam
- Modal Finansial
1. Modal Manusia
Kita tahu manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi akal oleh Sang Pencipta. Manusia yang menggerakan, manusia yang mengambil tindakan. Maka manusia pula yang bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan. "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Ing ngarsa sung tulada, artinya dari depan, seorang pendidik harus memberikan teladan yang baik. Ia dapat diartikan: sebagai seorang pemimpin, harus memiliki sikap serta perilaku yang patut untuk menjadi di contoh oleh pengikutnya. Ing madya mangun karsa, artinya dari tengah, seorang pendidik harus dapat menciptakan prakarsa atau ide.Tut wuri handayani, artinya dari belakang, seorang pendidik harus bisa memberi arahan. Demikian satu dari beberapa konsep pendidikan yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara. Potensi besar seorang pendidik untuk terus berupaya bukan sekedar mendorong saja, akan tetapi memotivasi dan memberi contoh untuk murid di sekolah.
Guru Penggerak tentunya modal manusia yang paling besar karena sudah dapat ilmunya dalam melakukan perubahan, terlebih mereka punya peran dalam menggerakan komunitas:
- Menjadi pemimpin dalam pembelajaran.
- Menjadi coach bagi guru lain.
- Mendorong kolaborasi.
- Mewujudkan kepemimpinan murid.
- Menggerakan komunitas praktisi.
2. Modal Sosial
Komunitas yang ada di masyarakat sangatlah banyak dan beragam, aset yang besar juga yang dimiliki jika sekolah punya koneksi yang bagus dengan pihak luar terlebih komunitas-komunitas yang ada kaitannya dengan pembelajaran atau pembentukan karakter peserta didik.
3. Modal Politik
Setiap kebijakan yang ada dari pemangku kepentingan semestinya bisa menguntungkan sekolah, namun tidak jarang ada beberapa hal yang dirasa kurang menguntungkan bahkan cenderung merugikan. Namun kembali lagi bahwa yang dipandang itu adalah asset-based approach sehingga ketika hal itu tidak menguntungkan bukan menjadi hal yang harus dihindari namun, harus mencari dan berupaya memaksimalkan aset yang bisa menguntungkan.
4. Modal Agama dan Budaya
Indonesia adalah negara yang kaya akan agama dan budaya, agama haruslah menjadi modal utama dalam segala hal, karena sesungguhnya setiap agama mengajarkan kebaikan dalam bersoisalisasi dan berinteraksi antar manusia. Pada profil pelajar Pancasila yang diusung pertama adalah beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia. Kebudayaan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah buah budi manusia yang bersifat luhur dan indah, dan hasil perjuangan hidup manusia dalam menghadapi perubahan alam dan jaman. Sebagai buah budi manusia kebudayaan berupa : ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), reiegiusitas atau keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, etika susila, seni dan keindahan (estetika), dan kecapakan hidiip (life skill). Sebagai hasil perjuangan hidup manusia dalam menghadapi perubahan alam dan jaman kebudayaan berupa hasil-hasil karya manusia dari jaman ke jaman, seperti peralatan rumah tangga, perlaian perang, bentuk-bentuk nanah, dan sebgainya. Kebudayaan selalu tumbuh dan berkembang seiring perkembangan pikiran, perasaan, dan kemauan manusia dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.
Menurut Ki Hadjar Dewantara kebudayaan dikembangkan dengan teori TRIKON, yaitu secara kontinyu, konvergen, dan konsentris.
- Kontinyu artinya kebudayaan asli yaitu sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah terus menerus dan secara berkesinambungan dimunculkan.
- Konvergen artinya kebudayaan asli dipadukan dengan kebudayaan asing yang dipandang dapat memajukan bangsa secara selektif (dipilih dan ditolak) dan adaptif (menyatu seperti air dengan gula).
- Konsentris artinya menyatu dengan kebudayaan dunia (mengglobal) dengan catatan masing- masing bangsa tetap membawakan kepribadian masing-masing.
5. Modal Fisik
Secara umum sekolah yang ada di Indonesia berada pada satu bangunan dan sarana prasarana yang bisa menunjang pembelajaran dengan baik. Namun tidak jarang sarana dan prasarana menjadi kendala dalam menggapai keberhasilan dalam pembelajaran. Ketika semua bisa disiasati pasti akan ada jalan keluar, hanya bagaimana manusia menggunakan akal dan pikirannya untuk mengupayakan aset yang satu ini menjadi modal untuk merubah yang asalnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin, yang dianggapnya mustahil tidak bisa menjadi bisa.
6. Modal Lingkungan/Alam
Lingkungan/alam menyediakan tempat yang begitu luas untuk dipelajari dan diamati. Lingkungan juga menjadi PR untuk umat manusia saat ini dan masa yang akan datang. Alam bukan hanya untuk dipelajari namun dijaga dan dilindungi untuk keberlangsungan hidup manusia.
7. Modal Finansial
Finansial pasti akan diperlukan, sedikit atau banyak pasti akan memerlukan. Kerjasama dengan pihak luar pastilah membuat keuntungan besar dalam pengembangan sekolah. Tidak mengandalkan satu pihak namun bekerjasama dengan pihak-pihak luar yang mempunyai kepentingan sama.
Dalam pengambilan keputusan di sekolah hendaklah memperhatikan 7 modal tersebut dan tentunya hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketika permasalahan tersebut mengandung dilema etika, maka ada langkah yang harus diambil, diantaranya:
- Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.
- Menentukan siapa yang terlibat.
- Mengumpulkan fakta yang relevan
- Pengujian benar atau salah.
- Pengujian benar lawan benar.
- Melakukan prinsip resolusi.
- Investigasi opsi trilema.
- Buat keputusan.
- Refleksikan hasil keputusan.
Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab
dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal. Karena Pancasila telah mengamanahkan kita untuk selalu berbuat baik dimanapun dan kapanpun kita berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar