Kamis, 31 Agustus 2023

Refleksi Filosofis KHD

Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional-Ki Hadjar Dewantara demikian pembahasan yang ada pada Modul 1.1 Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 9. "Pendidikan yang berpusat pada murid" satu kalimat yang menggugah pemikiran saya dan ingin tahu lebih banyak lagi tentang konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) akan pendidikan dan pengajaran. Dimana ada satu lagi kata yang menjadi perhatian saya yakni "menuntun" yang ternyata mempunya arti sangat dalam. Saya kira menuntun disini dalam konteks budaya Sunda menuntun berarti menggiring atau mengarahkan. Namun menuntun disini yang dimaksudkan adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani 

Ing Ngarsa sung Tuladha ; ing(di), Ngarsa(depan), sung(jadi), Tuladha(contoh/panutan) makna: Di Depan menjadi Contoh atau Panutan.

Ing Madya Mangun Karsa ; ing(di), Madya(tengah), mangun(berbuat), Karsa(penjalar) makna: Di tengah Berbuat Keseimbangan atau Penjalaran.

Tut Wuri Handayani ; Tut(di), Wuri(berbuat/mengelola), Handayani(Dorongan) makna: Di Belakang membuat Dorongan atau Mendorong.

Kalaulah "menuntun" ini diibaratkan menuntun anak yang sedang belajar berjalan, kita menuntun kemauan dia untuk bisa berjalan, bukan kita paksakan dia supaya bisa jalan. Manakala kita yang memaksa anak itu untuk jalan, biasanya dia tidak mau. Namun jika kesadaran dari dirinya untuk bisa berjalan maka dia akan mencoba meraih tangan kita dan tangannya menengadah seakan meminta pertolongan untuk bisa berjalan. Maka inilah yang seharusnya terjadi dalam kelas-kelas kita, guru tidak lagi memaksakan kehendaknya tapi guru lebih ke mengarahkan kemauan anak untuk belajar. 

Sebelum mempelajari modul 1.1 ini saya berasumsi bahwa setiap murid harus patuh terhadap perintah guru, murid harus melaksanakan semua kemauan guru karena bukankah guru itu harus digugu dan ditiru? Guru mempunyai tanggungjawab besar dalam mendidik murid-murid di sekolah. Guru mendidik dengan mengacu pada kurikulum yang sudah disahkan oleh pemerintah. mengajar tidak boleh keluar dari rel yang sudah ditentukan, karena kurikulum adalah acuan untuk mengantarkan murid pada satu tujuan nasional pendidikan yang terdapat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia ke-4 yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Pada dasarnya pola mengajar saya sejalan dengan apa yang dulu didapat pada saat di bangku sekolah, semua murid mengerjakan soal yang sama, semua murid belajar dari sumber yang sama, murid yang tidak bisa disuruh untuk mencatat atau merangkum. Murid tidak bisa menyanyi "dipaksa" untuk menyanyi, murid yang tidak bisa menggambar dipaksa untuk menggambar. Murid yang tidak bisa matematika diberi jam tambahan, bahkan tidak jarang ditambah PR yang harus dikerjakan. Ketika akan ujian semua murid mendapat jam tambahan, diberi soal tahun-tahun sebelumnya. Apakah ini yang diamanatkan kurikulum pada saat itu?

Kurikulum tidak ada yang salah, yang salah mungkin dari saya pribadi tidak menggali lebih dalam lagi, lebih kuat pada asumsi takdir ada di tangan Allah, sehingga pasrah yang penting sudah melakukan (gugur kewajiban). Pada akhirnya saya merefleksi dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan terhadap murid-murid di kelas, apakah sudah sejalan dengan konsep KHD atau konsep keyakinan pribadi dari pengalaman mengajar selama ini!

Hasil refleksi dan evaluasi ternyata pendidikan berpusat pada murid belum sepenuhnya dilakukan, saya masih banyak berbicara satu arah, anak hanya mendengarkan. Sekarang sudah harus dihilangkan sedikit-sedikit guru banyak berbicara (metode ceramah), saya melibatkan murid-murid di kelas dalam memahami materi yang harus mereka kuasai dengan menganalisis, mengemukakan pendapat dan memberikan sanggahan atau jawaban lain dari jawaban yang telah diberikan temannya. Dulu orangtua hanya sebatas menitipkan anaknya kepada guru kelas, orangtua dipanggil manakala ada permasalahan yang dibuat oleh anak di sekolah, namun sekarang kerjasama dengan orangtua terjalin bukan sekedar pada saat anak bermasalah, orangtua harus tahu capaian anaknya dihari itu, orangtua harus melaporkan perkembangan anaknya kepada guru. 

Peran orangtua atau keluarga perlu dilibatkan karena menurut KHD ada tripusat pendidikanistilah dalam bidang pendidikan yang berarti memberdayakan sinergitas lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pendidikan yang terjadi di sekolah haruslah sejalan dengan pendidikan yang terjadi di rumah, seperti halnya guru mengajarkan murid untuk membersihkan/mencuci piring dan gelas setelah makan, namun yang terjadi di rumah malah sebaliknya orangtua melarang anaknya untuk mencuci piring dengan alasan takut pecah atau tidak bersih, maka ini harus dibicarakan dan dicari solusi pemecahannya. Contoh lain di sekolah anak diajarkan tanggungjawab pada saat pensilnya hilang, maka diharuskan mencarinya terlebih dahulu, di rumah orang tuapun harus sama caranya, bukan malah langsung membelikannya yang baru. Apabila sekolah dan rumah bertolak belakang maka hasil pendidikan yang diharapkan akan sulit dicapai.
Untuk itu sekolah sudah mulai melibatkan orangtua dalam pengambilan keputusan dalam berbagai kegiatan seperti market day, mengelola kantin, perlombaan hari kemerdekaan, bahkan pada saat penyusunan KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan). Diharapkan jika sudah terjalin hubungan yang baik, tidak ada rasa canggung antara guru dan orangtua maka mendidik anak akan terasa lebih mudah, tinggal bagaimana peran lingkungan dalam menjaga ritme pendidikan yang sudah diupayakan sekolah dan keluarga. Karena tidak sedikit lingkunganlah yang membuat perubahan sikap tidak baik pada anak, baik dari ucapan maupun tindakan.
Jauh sebelum kemerdekaan Ki Hadjar Dewantara mencetuskan pendidikan harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam, seyogyanya seorang pendidik harus melihat dan mengetahui bagaimana lingkungan muridnya tinggal, bagaimana sosial budaya, karakter keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya. Lingkungan perkotaan condong dengan karakter individual, budaya yang sedikit mulai ditinggalkan, gotong royong hampir tidak terlihat, bahasa daerah yang jarang dipakai. Maka sekolah mencoba untuk menghidupkan itu semua dengan kegiatan yang bisa mendorong aktifitas kerjasama dan penanaman budaya sunda seperti panggilan kepada guru Abah dan Ambu, Kakang dan Ceuceu kepada kakak kelas. Pembiasaan menggunakan bahasa Sunda di satu hari, Aksara Sunda masuk pada program khas sekolah. 
Sedangkan kodrat zaman, seorang pendidik harus paham era apa yang tengah dialami oleh peserta didik. Sekarang adalah era teknologi dan informasi yang begitu pesat, maka guru harus mengasah kemampuan dalam memberikan pengajaran dan mengolah data informasi dalam segala hal. Dulu orangtua hanya sebatas mengetahui informasi kegiatan dari anaknya, itupun jika anaknya bercerita. Namun sekarang informasi kegiatan di sekolah bisa orangtua lihat di media sosial seperti Facebook, Instragam atau di website sekolah dan juga website khusus kelas yang di dalamnya berisi hal-hal yang berkaiatan dengan pembelajaran di sekolah.Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaranpun diupayakan untuk membuat anak tidak merasa bosan, sehingga sumber belajar bukan hanya pada buku paket saja.
Falsafah Sunda mengenal istilah cageur, bageur, bener, pinter, singer. Realisasi dari 5 falsafah Sunda ini tergambar dalam kegiatan yang berlangsung di sekolah.
Cageur (sehat) anak-anak haruslah sehat, sehat jiwanya sehat raganya olah gerak dan memperhatikan makanan yang tersedia di kantin. Bageur (sukan menolong), karakter baik dengan saling mengingatkan manakala ada anak yang melakukan pelanggaran dan juga jum'at berbagi. Bener (baik), baik dalam berucap maupun bertindak, saling mengawasi dan memberitahu jika melakukan kesalahan/pelanggaran, selalu merefleksi diri, menilai diri sendiri dan teman di kelas. Pinter (pintar) tidak tertinggal dalam ilmu pengetahuan, menguasai capaian yang sudah ditetapkan dengan strategi pembelajaran yang beragam. Singer (mawas diri) punya rasa empati kepada teman dan lingkungan.
Itulah sekelumit tentang pemikiran KHD yang bisa diterapkan di sekolah, tentunya masih banyak yang harus digali dan disesuaikan dengan kurikulum yang dijalankan saat ini, namun setidaknya pendidikan yang kita lakukan haruslah berprinsip memanusiakan manusia. Anak sebagai manusia yang punya keinginan, punya perasaan, punya karakter yang harus dipahami oleh guru sebagai dasar untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada mereka. 
Salam guru penggerak! 

Paling Mudah Mencari Kambing Hitam

Sayyidina Ali sahabat Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup dijamannya bukan dijaman kita. Fenomena yan...