Jumat, 22 Maret 2024

Koneksi Antar Materi 3.3

 “Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya.”

Ki Hadjar Dewantara

 

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Ki Hadjar Dewantara

Bapak Pendidikan mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya peserta didik di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan peserta didik di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur. Tugas seorang guru berarti menuntun anak untuk menjadi seorang yang memberikan manfaat bagi dirinya, bangsanya dan semua orang yang berada disekitarnya sesuai dengan kodrat dan kemampuan yang dimilikinya. Pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Meskpun pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga Pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak. Menurut Ki Hadjar Dewantara, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).

Maka dari itu guru diharapkan dapat memainkan peran-peran memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya. Kepemimpinan seorang guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan, dimulai dari Guru Penggerak yang telah dibekali ilmu untuk melakukan perubahan sejak masih pendidikan, apa yang dilakukan guru penggerak tidak lepas dari peran dan nilai yang dimilikinya; berpihak pada peserta didik, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Sehingga diharapkan menajdi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan peserta didik dan menggerakan komunitas praktisi. Itu semua untuk sampai pada tujuan pendidikan nasional dan mewujudkan peserta didik yang berprofil pelajar Pancasila, yang secara garis besar ada 6 dimensi:

1.   Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia

2.   Berkebhinekaan Global

3.   Bergotong Royong

4.   Mandiri

5.   Bernalar kritis

6.   Kreatif

Tidak hanya itu saja, dukungan dari kepala sekolah dan rekan guru sangat dibutuhkan untuk bisa menjalankan perannya sebagai guru penggerak. Kepala sekolah yang mempunyai kebijakan, rekan guru yang akan menjadi partner kerja. Apabila semua bisa berkolaborasi dengan baik bisa dipastikan semua permasalahan akan terasa ringan untuk diselesaikan. Bukan hanya kolaborasi saja, untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila ekosistem sekolah haruslah mempunyai kebiasaan positif dalam segala aktifitas di sekolah, kebiasaan positif ini harus dibangun semua warga sekolah yang sampai menjadi sebuah disiplin positif. Disiplin positif selalu mengedepankan sisi kemanusiaan, bahwa manusia pasti akan berbuat salah, tinggal bagaimana kesalahan yang dilakukan baik oleh peserta didik atau pendidik itu bisa menjadi poin untuk membangun kesadaran dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Disiplin positif di lingkungan sekolah dapat dimulai dari ruang kelas terlebih dahulu, dimana dengan adanya keyakinan kelas, keyakinan yang memuat kebijakan-kebijakan universal, dengan landasan itu peserta didik akan belajar mengapa hal tidak baik itu tidak boleh dilakukan. Penyelesaian masalah yang terjadi pada peserta didik tidak langsung menyalahkan dan diberi hukuman, guru perlu bertindak menjadi seorang manajer yang menyelesaikan masalah dengan segitiga restitusi:

1.   Validasi tindakan yang salah

2.   Menstabilkan identitas

3.   Menanyakan keyakinan

Dengan demikian peserta didik menyadari akan kekeliruan yang dilakukannya dan ketika keputusan diambil tidak menyisakan dendam kepada guru atau siapapun yang terlibat dalam permasalahan tersebut. Memang tidak mudah, tapi dengan terus berlatih dan memecahkan setiap permasalahan dengan segitiga restitusi semua akan terbiasa. Pendisplinan dengan cara segitiga restitusi diharapkan bukan dari faktor eksternal akibat hukuman atau hadiah, namun hadir dalam dirinya sendiri, kemauan berubah dalam dirinya. Anak bertindak pasti ada sebab, itulah yang harus disadari oleh guru, ada 5 kebutuhan dasar manusia melakukan satu tindakan:

1.   Penguasaan

2.   Kasih sayang dan rasa diterima

3.   Kesenangan

4.   Kebebasan

5.   Bertahan hidup

Dari kebutuhan dasar hidup itulah guru perlu mengetahui bagaimana memberikan pelayanan pada konsep “menuntun” dalam kegiatan pembelajaran setiap hari dikelas guru sudah seharusnya memperhatikan kemampuan setiap peserta didik, mereka datang bukan dari tempat dan lingkungan yang sama, mereka punya cara dan gaya belajar yang berbeda-beda, guru sekarang tidak menyamaratakan cara dalam memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Guru harus bisa memfasilitasi belajar peseta didik berdasarkan kemampuannya sehingga guru harus bisa memberikan pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi:

1.   Konten

2.   Proses

3.   Produk

Dengan terjadinya pembelajaran berdiferensiasi diharapkan peserta didik bisa mencapai target belajar yang ditetapkan guru.

            Tidak kalah penting pada saat pembelajaran di kelas setelah guru menerapkan diferensiasi dalam pembelajaran juga harus memperhatikan sosial emosional peserta didik, tidak fokus pada materi ajar atau nilai yang harus terpenuhi seperti sebelumnya, sehingga pembentukan karakter menjadi prioritas dalam setiap pertemuan di kelas. Anak akan kembali pada masyarakat, mereka harus tahu bagaimana harus bersikap, bagaimana mengelola emosinya, memikirkan apa dampak ke depan yang akan terjadi jika dia melakukan satu hal. Ada 5 hal yang perlu diperhatikan pada saat menerapkan pembelajaran sosial emosional:

1.   Kesadaran diri

2.   Kesadaran sosial

3.   Keterampilan berelasi

4.   Manajemen diri

5.   Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab

Kelima hal ini hendaklah terintegrasi pada saat pembelajaran di kelas, guru hendaklah menyampaikan dari setiap langkah pembelajaran yang didalamnya ada sosial emosional.

            Dalam memberikan pembelajaran guru haruslah senantiasa memperhatikan apa yang dilakukan di dalam kelas, model dan metode apa yang digunakan, sehingga anak tidak merasa bosan, sejauh mana keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, apakah hanya sekedar duduk, baca, mengerjakan tugas, nilai kemudian pulang, atau guru bisa menggali pengetahuan mereka, menciptakan rasa ingin tahu kepad peserta didik sehingga dari rasa ingin tahu ini menjadikan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat yang rasa ingin tahunya tinggi. Tentunya guru memerlukan seorang observer yang harus melihat sejauh mana keefektifan selama pembelajaran di kelasnya. Harus ada yang memantau, tidak bisa jika hanya dinilai oleh diri sendiri. Maka guru harus sadar akan perlunya supervisi akademik, supervisi akademik yang memfokuskan pada pengembangan diri bukan sekedar tuntutan administrasi. Supervisi yang harus dilakukan pada 3 tahap:

1.   Pra Observasi

2.   Observasi

3.   Pasca Observasi

Dalam kegiatan supervisi ini guru akan melihat dan mengukur kemampuan yang dimilikinya. Hendaklah pasca observasi dilakukan dengan teknik couching. Sehingga guru tidak merasa disalahkan, guru akan mengatakan hal yang dia rasa baik dan belum baik. tugas observer pada saat supervisi akademik yaitu mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat guru menyadari akan kekeliruan atau kelemahannya sehingga dia punya cara sendiri untuk memperbaiki kesalahannya tersebut.

            Dalam mengahdapi peserta didik di sekolah terkadang guru dihadapkan pada dilema etika, harus memilih diantara dua pilihan yang benar keduanya, jika permasalahan hanya sekedar benar dan salah mungkin tidak begitu sulit, namun tetap harus memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan ke depan. Sehingga perlu menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan yaitu:

1.   Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.   Menentukan siapa yang terlibat

3.   Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.   Pengujian benar atau salah

a.   Uji legal

b.   Uji regulasi/standar profesional

c.   Uji intuisi

d.   Uji publikasi

e.   Uji panutan/idola

5.   Pengujian paradigma benar lawan benar

6.   Melakukan prinsip resolusi

7.   Intervensi opsi trilema

8.   Buat keputusan

9.   Lihat keputusan dan refleksikan

Meskipun hanya sebuah metode diantara metode-metode yang ada, namun setidaknya langkah ini bisa meminimalisir akibat negatif yang ditimbulkan pasca pengambilan keputusan.

Permasalahan yang timbul di lingkungan sekolah bukan hanya berkaitan dengan prilaku peserta didik, namun dalam menjalankan programpun sekolah sering dihadapkan pada hal-hal diluar kemampuan, sehingga semua pihak harus berkoordinasi dan berkolaborasi dalam menjalankannya. Terlebih pada saat sarana dan prasarana tidak memadai. Perlu adanya pemikiran positif seperti dalam pribahasa “tak ada rotan akarpun jadi”. Warga sekolah harus bisa memanfaatkan sarana dan prasarana di sekitar atau yang dimiliki walupun itu kecil kemungkinan, semua perlu berpikir aset yang dimiliki, aset yang bisa dipergunakan. Dengan begitu sekolah akan bisa memaksimalkan program atau kegiatan yang akan dilakukan di sekolah. Aset yang ada itu meliputi:

1.   Modal manusia

2.   Modal sosial

3.   Modal politik

4.   Modal agama dan budaya

5.   Modak fisik

6.   Modal lingkungan/alam

7.   Modal finansial

Bukan hanya terfokus pada aset yang dimiliki, gurupun harus bisa memaksimalkan keterlibatan peserta didik dalam pembuatan program atau kegiatan di sekolah supaya peserta didik merasa memiliki dan mempunyai rasa tanggungjawab, ada 3 hal keterlibatan peserta didik dalam kepemimpinannya:

1.   Suara (Voice)

2.   Pilihan (Choice)

3.   Kepemilikan (Ownership)

Selama ini program yang dibuat hanya oleh guru atau kepala sekolah atau bahkan itu program yayasan tanpa melibatkan sedikitpun peserta didik, padahal pembelajaran sejatinya berpusat pada peserta didik, mereka yang punya kendali, mereka yang akan menjalani, guru sekedar menjadi fasilitator yang mengarahkan mereka untuk bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat dan menjadi pelajar yang berprofil pelajar Pancasila. 

Paling Mudah Mencari Kambing Hitam

Sayyidina Ali sahabat Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup dijamannya bukan dijaman kita. Fenomena yan...