Jumat, 01 Desember 2023

Koneksi Antar Materi 2.3

 COACHING SUPERVISI AKADEMIK

Pengembangan diri bisa bersumber dari diri sendiri maupun orang lain, pengembangan dari dalam diri mungkin itu akan membuat kita nyaman tidak terintimidasi dan bebas menentukan pengembangan mana yang akan kita raih. Sedangkan pengembangan diri yang bersumber dari orang lain ini perlu sikap membuka diri karena terkadang apa yang disampaikan itu tidak sejalan dengan yang kita harapkan, bahkan bisa juga menyakitkan. Pengembangan diri yang bisa digunakan secara kolaboratif baik itu dari diri sendiri dan oranglain adalah dengan coaching. Dimana coaching ini lebih ke mengembangkan kemampuan diri dengan tuntunan orang lain (coach).
Ada 3 prinsip coaching yang harus diperhatikan oleh seorang coach:
1. Kemitraan
2. Percakapan Kreatif
3. Memaksimalkan potensi

Adapun alur percakapan yang digunakan pada saat coaching itu menggunakan alur TIRTA:
T (Tujuan) Menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan.
I (Identifikasi) Menggali dan memetakan situasi saat ini, hubungan dengan fakta-fakta yang ada.
R (Rencana) Mengembangan ide untuk alternatif rencana aksi/solusi.
TA (Tanggungjawab) Berkomitmen akan langkah selanjutnya.

Pada saat belajar tentang coaching, dari pengenalan sampai praktik yang dilakukan bersama rekan CGP lain ada perasaan was-was, karena pada kenyataannya seringnya kita berkomunikasi pasti akan memberikan jalan keluar atau ide kepada lawan bicara kita, seolah-olah kita paling tahu solusi dari permasalahan yang sedang dia hadapi. Padahal poin terpenting dari coaching ini adalah kesadaran membuka kelemahan yang ada pada diri melalui orang lain yang sesungguhnya solusi ada pada diri choachee sendiri namun belum percaya diri.

Dari praktik yang dilakukan selama materi choaching sudah baik dalam hal kehadiran penuh, pada saat choachee menyampaikan permasalahannya tetap fokus pada apa yang disampaikan sehingga percakapan tidak terhenti dari mulai sampai akhir, tidak dibolak-balik baik pertanyaan maupun jawaban. Perlu peningkatan dalam pertanyaan yang berbobot, karena disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi dan tentunya ini memerlukan jam terbang tersendiri.

Supervisi akademik menggunakan coaching perlu perlu kesadaran atau kemauan dari rekan guru tanpa melihat pengalaman atau tidak dalam mengajar. Setiap orang berhak mengembangkan kemampuan dirinya dengan berbagai hal. Apakah supervisi ini hanya sebatas tagihan dari pemangku kepentingan yang sudah diberi jadwal? Saya kira tidak seperti itu, harus ada jadwal yang guru sendiri meminta untuk dia di coaching, kalau masih belum mau maka kepala sekolah yang membuatkan jadwal. Dan supervisi ini harus sesuai dengan prinsip coaching, ada pra dan juga pasca observasi. Bukan langsung diberikan jadwal supervisi kemudian diberikan umpan balik, yang terkadang umpan balik itu kurang bisa diterima oleh yang bersangkutan karena dia merasa apa yang dilakukan di kelas sudah optimal. Maka supervisi sebaiknya dilakukan oleh semua guru, bukan hanya kepala sekolah atau yang berpengalaman mengajar, karena dengan begitu setiap guru akan tahu dan merasakan sekaligus belajar bagaimana mengutarakan dan mencarikan jalan keluar tanpa harus memberikan ide.

Konsistensi yang sangat diperlukan dalam melakukan supervisi akdemik ini. Bukan bersifat sementara atau saat ada tagihan. Maka saya tetap akan berkomitmen dengan kepala sekolah terkait supervisi akademik yang berbasis coaching, bukan bersifat mentoring atau conseling. Dan supervisor harus bisa menggali pertanyaan pemantik untuk guru tersebut berpikir tentang apa yang akan dilakukan bukan berkata baiknya seperti apa! Karena dengan begitu berarti tidak ada kemauan berpikir dari guru tersebut.

Supervisi yang dilakukan dimasa lalu itu hanya satu arah, supervisor hanya menilai baik dan buruk, tanpa bertanya apa dan mengapa. Namun setelah ini harus ada rencana dulu apa yang akan diamatinya, bukan mengamati secara keseluruhan proses mengajar kemudian dicatat temuan-temuan di kelas. Tapi fokusnya pada apa yang mau dia kembangkan tanpa mengenyampingkan aktifitas yang lain. Dengan demikian akan terukur kemampuan guru tersebut, kemudia langkah apa yang akan diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Maka dipastikan umpan balik dengan prinsip coaching ini akan disukai oleh guru maupun peserta didik.

Coaching ini sangat erat kaitannya dengan pembelajaran sosial emosional, karena disana ada kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Kesadaran diri pada saat dia mengajukan diri untuk dicoaching atau meminta pengamatan tentang kemampuan yang dirasa kurang atau belum maksimal apakah yang berkaitan dengan diferensiasi, berpusat pada murid atau penerapan sosial emosional kepada peserta didik dalam aktivitasnya di kelas. Kesadaran sosial bagaimana dia menempatkan diri ditengah-tengah peserta didik pada saat di supervisi, apakah tetap pada relnya atau malah menjadi tidak terkendali. Manajemen diri, bagaimana dia harus menilai terlebih dahulu apa yang sudah dilakukan, kemudian menerima hasil dari supervisi yang disampaikan. Keterampilan berelasi, bagaimana dia berkomunikasi dengan coach, menjawab pertanyaan dari coach. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, pada saat dia mengambil keputusan apa yang harus dilakukan selanjutnya atas kekurangan yang dimiliki.

Maka coaching ini dipastikan sarana yang tepat untuk digunakan dalam supervisi akademik, karena begitu banyak yang harus diterapkan dalam pembelajaran di kelas pada saat ini, bukan hanya pada saat kurikulum merdeka, namun apapun kurikulumnya tetap coaching ini harus dilakukan. Bagimana memfasilitasi kemampuan belajar setiap anak, bagaimana mengkondisikan anak sebelum pembelajaran, menerapkan disiplin positif, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, modul ajar yang digunakan, komponen modul ajar, penerapan pembelajaran sosial emosional, dan lain sebagainya.

Guru harus mempunyai growth mindset, harus berani keluar dari zona nyaman. Bukan sekedar datang ke kelas, berikan materi, beri nilai kumpulkan dan pulang. Harus sadar akan kemampuan yang dimilikinya, jika tidak sadar maka harus disadarkan, jika tidak mau disadarkan maka perlu dipertanyakan keinginannya untuk jadi guru, karena seorang guru sejati bukan hanya sebatas mengajar tapi dia harus selalu menjadi guru yang belajar, belajar dan terus belajar karena konseppendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan yang holistik, dimana murid atau peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh meliputi olah rasio, olah rasa, olah jiwa dan olah raga melalui proses pembelajaran dan lainnya yang berpusat pada murid dan dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan. Hal ini seiring dengan empat pilar pendidikan menurut UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together.


Paling Mudah Mencari Kambing Hitam

Sayyidina Ali sahabat Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup dijamannya bukan dijaman kita. Fenomena yan...