COACHING SUPERVISI AKADEMIK
Pengembangan diri bisa bersumber
dari diri sendiri maupun orang lain, pengembangan dari dalam diri mungkin itu
akan membuat kita nyaman tidak terintimidasi dan bebas menentukan pengembangan
mana yang akan kita raih. Sedangkan pengembangan diri yang bersumber dari orang
lain ini perlu sikap membuka diri karena terkadang apa yang disampaikan itu
tidak sejalan dengan yang kita harapkan, bahkan bisa juga menyakitkan.
Pengembangan diri yang bisa digunakan secara kolaboratif baik itu dari diri
sendiri dan oranglain adalah dengan coaching. Dimana coaching ini lebih ke
mengembangkan kemampuan diri dengan tuntunan orang lain (coach).
Ada 3 prinsip coaching yang harus diperhatikan oleh seorang coach:
1. Kemitraan
2. Percakapan Kreatif
3. Memaksimalkan potensi
Adapun alur percakapan yang
digunakan pada saat coaching itu menggunakan alur TIRTA:
T (Tujuan) Menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan.
I (Identifikasi) Menggali dan memetakan situasi saat ini, hubungan dengan
fakta-fakta yang ada.
R (Rencana) Mengembangan ide untuk alternatif rencana aksi/solusi.
TA (Tanggungjawab) Berkomitmen akan langkah selanjutnya.
Pada saat belajar tentang
coaching, dari pengenalan sampai praktik yang dilakukan bersama rekan CGP lain
ada perasaan was-was, karena pada kenyataannya seringnya kita berkomunikasi
pasti akan memberikan jalan keluar atau ide kepada lawan bicara kita,
seolah-olah kita paling tahu solusi dari permasalahan yang sedang dia hadapi.
Padahal poin terpenting dari coaching ini adalah kesadaran membuka kelemahan
yang ada pada diri melalui orang lain yang sesungguhnya solusi ada pada diri
choachee sendiri namun belum percaya diri.
Dari praktik yang dilakukan selama
materi choaching sudah baik dalam hal kehadiran penuh, pada saat choachee
menyampaikan permasalahannya tetap fokus pada apa yang disampaikan sehingga percakapan
tidak terhenti dari mulai sampai akhir, tidak dibolak-balik baik pertanyaan
maupun jawaban. Perlu peningkatan dalam pertanyaan yang berbobot, karena
disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi dan tentunya ini memerlukan jam
terbang tersendiri.
Supervisi akademik menggunakan
coaching perlu perlu kesadaran atau kemauan dari rekan guru tanpa melihat
pengalaman atau tidak dalam mengajar. Setiap orang berhak mengembangkan
kemampuan dirinya dengan berbagai hal. Apakah supervisi ini hanya sebatas
tagihan dari pemangku kepentingan yang sudah diberi jadwal? Saya kira tidak
seperti itu, harus ada jadwal yang guru sendiri meminta untuk dia di coaching, kalau
masih belum mau maka kepala sekolah yang membuatkan jadwal. Dan supervisi ini
harus sesuai dengan prinsip coaching, ada pra dan juga pasca observasi. Bukan
langsung diberikan jadwal supervisi kemudian diberikan umpan balik, yang
terkadang umpan balik itu kurang bisa diterima oleh yang bersangkutan karena
dia merasa apa yang dilakukan di kelas sudah optimal. Maka supervisi sebaiknya
dilakukan oleh semua guru, bukan hanya kepala sekolah atau yang berpengalaman
mengajar, karena dengan begitu setiap guru akan tahu dan merasakan sekaligus
belajar bagaimana mengutarakan dan mencarikan jalan keluar tanpa harus
memberikan ide.
Konsistensi yang sangat diperlukan dalam melakukan supervisi akdemik ini. Bukan bersifat sementara atau saat ada tagihan. Maka saya tetap akan berkomitmen dengan kepala sekolah terkait supervisi akademik yang berbasis coaching, bukan bersifat mentoring atau conseling. Dan supervisor harus bisa menggali pertanyaan pemantik untuk guru tersebut berpikir tentang apa yang akan dilakukan bukan berkata baiknya seperti apa! Karena dengan begitu berarti tidak ada kemauan berpikir dari guru tersebut.
Supervisi yang dilakukan dimasa
lalu itu hanya satu arah, supervisor hanya menilai baik dan buruk, tanpa
bertanya apa dan mengapa. Namun setelah ini harus ada rencana dulu apa yang
akan diamatinya, bukan mengamati secara keseluruhan proses mengajar kemudian
dicatat temuan-temuan di kelas. Tapi fokusnya pada apa yang mau dia kembangkan
tanpa mengenyampingkan aktifitas yang lain. Dengan demikian akan terukur
kemampuan guru tersebut, kemudia langkah apa yang akan diambil untuk
memperbaiki hal tersebut. Maka dipastikan umpan balik dengan prinsip coaching
ini akan disukai oleh guru maupun peserta didik.
Coaching ini sangat erat
kaitannya dengan pembelajaran sosial emosional, karena disana ada kesadaran diri,
kesadaran sosial, manajemen diri, keterampilan berelasi dan pengambilan
keputusan yang bertanggungjawab. Kesadaran diri pada saat dia mengajukan diri
untuk dicoaching atau meminta pengamatan tentang kemampuan yang dirasa kurang
atau belum maksimal apakah yang berkaitan dengan diferensiasi, berpusat pada
murid atau penerapan sosial emosional kepada peserta didik dalam aktivitasnya
di kelas. Kesadaran sosial bagaimana dia menempatkan diri ditengah-tengah
peserta didik pada saat di supervisi, apakah tetap pada relnya atau malah
menjadi tidak terkendali. Manajemen diri, bagaimana dia harus menilai terlebih
dahulu apa yang sudah dilakukan, kemudian menerima hasil dari supervisi yang
disampaikan. Keterampilan berelasi, bagaimana dia berkomunikasi dengan coach,
menjawab pertanyaan dari coach. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab,
pada saat dia mengambil keputusan apa yang harus dilakukan selanjutnya atas
kekurangan yang dimiliki.
Maka
coaching ini dipastikan sarana yang tepat untuk digunakan dalam supervisi
akademik, karena begitu banyak yang harus diterapkan dalam pembelajaran di
kelas pada saat ini, bukan hanya pada saat kurikulum merdeka, namun apapun
kurikulumnya tetap coaching ini harus dilakukan. Bagimana memfasilitasi
kemampuan belajar setiap anak, bagaimana mengkondisikan anak sebelum
pembelajaran, menerapkan disiplin positif, pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik, modul ajar yang digunakan, komponen modul ajar, penerapan
pembelajaran sosial emosional, dan lain sebagainya.
Guru harus
mempunyai growth mindset, harus berani keluar dari zona nyaman. Bukan
sekedar datang ke kelas, berikan materi, beri nilai kumpulkan dan pulang. Harus
sadar akan kemampuan yang dimilikinya, jika tidak sadar maka harus disadarkan,
jika tidak mau disadarkan maka perlu dipertanyakan keinginannya untuk jadi
guru, karena seorang guru sejati bukan hanya sebatas mengajar tapi dia harus
selalu menjadi guru yang belajar, belajar dan terus belajar karena konseppendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan yang holistik, dimana
murid atau peserta didik dibentuk menjadi insan
yang berkembang secara utuh meliputi olah rasio, olah rasa, olah jiwa dan olah
raga melalui proses pembelajaran dan lainnya yang berpusat pada murid dan dilaksanakan dalam suasana penuh
keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan. Hal ini seiring dengan empat pilar
pendidikan menurut UNESCO yaitu learning to know,
learning to do, learning to be, and learning to live together.

