Rabu, 09 Februari 2022

Karyawan Sekolah

Guru itu seorang karyawan, guru seorang pekerja, guru seorang kreator, guru seorang seniman, guru seorang yang luar biasa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sosok yang penuh dengan dedikasi untuk dunia pendidikan dimanapun mereka berada. Betapa mengetuk hati tatkala Hiroshima dan Nagasaki hangus di bom, Kaisar Hirohito bukan menanyakan berapa jumlah pasukan yang masih hidup atau berapa kekuatan perang saat ini yang ada? Akan tetapi berapa guru yang tersisa?

Guru yang telah membuat peradaban, guru yang telah membuat semesta dikenal. Guru mendapat kedudukan yang mulia di dalam Islam. Namun sedikit orang yang tahu bagaimana cara memuliakan guru, terkadang guru dianggapnya manusia biasa bahkan tidak jarang mereka menganggap guru adalah teman. Guru memang tidak mengharapkan sanjungan dan pujian, tapi seorang murid harus mempunyai etika bagaimana dia berbicara, bertingkah laku ketika berhadapan dengan gurunya.

Ketika seorang karyawan pabrik berangkat untuk bekerja mungkin yang disiapkan adalah kekuatan fisik semata, perlengkapan seperti seragam, ID Card, sepatu, alat pendukung lainnya, ketika bel mulai berbunyi mereka mulai bekerja sampai jam istirahat datang dan waktu untuk pulang. Ketika mesin mengalami kendala, atau listrik tiba-tiba mati karyawan hanya menunggu sampai mesin itu jalan kembali. Begitu dan begitu yang setiap hari mereka kerjakan. Namun guru, tidak sekedar persiapan yang harus matang ketika akan memasuki ruang kelas, segala perlengkapan mengajar harus dipersiapkan untuk berjalannya pembelajaran yang sesuai harapan, tidak jarang skenario yang dipersiapkan malah melenceng dari yang diharapkan, mengapa? Karena guru berhadapan dengan sosok manusia bukan mesin yang diam dan ketika terjadi kerusakan dia diam. Guru bukan karyawan pabrik yang setelah selesai jam kerja langsung bersiap untuk pulang, guru harus melakukan penilaian, refleksi dan evaluasi atas apa yang sudah terjadi selama pembelajaran tadi. Bahkan ketika sampai rumahpun guru-guru yang betul-betul ingin memajukan pendidikan di negeri ini masih berpikir bagaimana esok akan melakukan pembelajaran, strategi apa yang akan dipakai, penilaian bagaimana yang akan digunakan.

Tidak jarang selesai dengan anak siangnya, sore hari atau malam berhadapan dengan orangtua yang komplain karena anaknya luka, memar, diejek, diambil pensil oleh temannya, dijaili, dan lain sebagainya. Itulah guru, yang harus siap dengan masalah-masalah yang mungkin akan berbeda ditemui setiap harinya pada saat di kelas.

Semangat untuk para guru hebat!!!

Rabu, 02 Februari 2022

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

        


    Salah satu yang menjadi ciri khas dari Kurikulum Prototipe itu adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau kita sebut dengan P5. Projek yang biasa dilakukan di kelas (intrakulikuler) maupun ekstrakulikuler itu berbeda dengan P5. Dimana P5 ini bersifat holistik, lintas disiplin ilmu yang artinya ketika projek dilakukan dari awal sampai akhir tidak nampak IPAnya, Bahasa Indonesianya, IPSny, atau mata pelajaran lainnya. Projek ini cakupannya sangat luas, tidak terpaku pada materi ajar yang sedang dibahas. P5 sangat diharapkan mengambil pada isu yang terjadi nyata di lingkungan, bukan bersifat khayalan. Sehingga peserta didik bisa terlibat langsung, memberikan kontribusi yang nyata terhadap lingkungannya. 

    Selama P5 dilaksanakan peserta didik diajak untuk menelaah, berpikir kritis, aksi nyata, kemudian terakhir adalah refleksi dari apa yang sudah dilakukan. Pembelajaran bermakna akan dirasakan langsung oleh mereka, bukan hanya sekedar teori belaka, akan tetapi mereka diajak langsung merasakan, mengalami, dan berpikir. Solusi apa yang harus dilakukan untuk memecahkan satu masalah. P5 bukan sekedar pelengkap untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, akan tetapi dapat memberikan pengalaman berharga kepada mereka, karena projek ini sejatinya dibuat agar anak menjadi peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya saat ini ataupun kelak dimana saja mereka berada. Perlu diingat P5 bukan projek satu mata pelajaran tertentu, bukan tugas satu orang guru, akan tetapi kolaborasi saling mendukung, saling menguatkan, tidak membebankan hanya pada seorang guru. 

    P5 dapat dilakukan oleh semua guru tanpa terkecuali, semua elemen berkolaborasi dibawah tanggung jawab Kepala Sekolah. Koordinator pelaksana diupayakan bergilir, supaya semua dapat belajar dan merasakan. Setiap projek yang dilakukan tentunya akan penuh dengan tantangan dan cerita menarik di dalamnya. Tidak semua projek berhasil, mungkin saja mengalami kegagalan. Namun jangan salah, bisa saja produknya gagal namun projeknya berhasil, karena yang paling utama dari P5 bukan dari hasilnya, akan tetapi perjalanan untuk sampai pada titik akhir, itulah P5 yang sesungguhnya.

    Pelaksanaan P5 itu berkaitan dengan Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Inilah yang membedakan dengan projek kelas pada umumnya, peserta didik bukan sekedar menyiapkan bahan-bahan lalu dikerjakan dan didapatkan hasil atau produk. P5 ini bermula dari hasil analisis, tahap penentuan. Kemudian masuk pada tahap kontekstualisasi, selanjutnya aksi nyata, dan terakhir adalah refleksi. Dalam melalui setiap tahap ini ada aktivitas yang harus dipersiapkan dan asesmen di dalamnya.

    Profil Pelajar Pancasila ini mempunyai 6 dimensi, yang setiap dimensi mempunyai elemen, setiap elemen mempunyai sub elemen, dan setiap sub elemen mempunyai capaian berbeda di setiap fase yang dinamakan Capaian Profil Pelajar Pancasila inilah yang diharapkan dari pelaksanaan P5. Sebenarnya P5 ini satu dari 4 komponen kegiatan di sekolah dalam upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Adapun yang 3 lagi itu melalui intrakulikuler, ekstrakulikuler, dan budaya sekolah.

Dimensi Profil Pelajar Pancasila

Merancang P5



Paling Mudah Mencari Kambing Hitam

Sayyidina Ali sahabat Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup dijamannya bukan dijaman kita. Fenomena yan...