Guru itu seorang karyawan, guru seorang pekerja, guru seorang kreator, guru seorang seniman, guru seorang yang luar biasa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sosok yang penuh dengan dedikasi untuk dunia pendidikan dimanapun mereka berada. Betapa mengetuk hati tatkala Hiroshima dan Nagasaki hangus di bom, Kaisar Hirohito bukan menanyakan berapa jumlah pasukan yang masih hidup atau berapa kekuatan perang saat ini yang ada? Akan tetapi berapa guru yang tersisa?
Guru yang telah membuat peradaban, guru yang telah membuat semesta dikenal. Guru mendapat kedudukan yang mulia di dalam Islam. Namun sedikit orang yang tahu bagaimana cara memuliakan guru, terkadang guru dianggapnya manusia biasa bahkan tidak jarang mereka menganggap guru adalah teman. Guru memang tidak mengharapkan sanjungan dan pujian, tapi seorang murid harus mempunyai etika bagaimana dia berbicara, bertingkah laku ketika berhadapan dengan gurunya.
Ketika seorang karyawan pabrik berangkat untuk bekerja mungkin yang disiapkan adalah kekuatan fisik semata, perlengkapan seperti seragam, ID Card, sepatu, alat pendukung lainnya, ketika bel mulai berbunyi mereka mulai bekerja sampai jam istirahat datang dan waktu untuk pulang. Ketika mesin mengalami kendala, atau listrik tiba-tiba mati karyawan hanya menunggu sampai mesin itu jalan kembali. Begitu dan begitu yang setiap hari mereka kerjakan. Namun guru, tidak sekedar persiapan yang harus matang ketika akan memasuki ruang kelas, segala perlengkapan mengajar harus dipersiapkan untuk berjalannya pembelajaran yang sesuai harapan, tidak jarang skenario yang dipersiapkan malah melenceng dari yang diharapkan, mengapa? Karena guru berhadapan dengan sosok manusia bukan mesin yang diam dan ketika terjadi kerusakan dia diam. Guru bukan karyawan pabrik yang setelah selesai jam kerja langsung bersiap untuk pulang, guru harus melakukan penilaian, refleksi dan evaluasi atas apa yang sudah terjadi selama pembelajaran tadi. Bahkan ketika sampai rumahpun guru-guru yang betul-betul ingin memajukan pendidikan di negeri ini masih berpikir bagaimana esok akan melakukan pembelajaran, strategi apa yang akan dipakai, penilaian bagaimana yang akan digunakan.
Tidak jarang selesai dengan anak siangnya, sore hari atau malam berhadapan dengan orangtua yang komplain karena anaknya luka, memar, diejek, diambil pensil oleh temannya, dijaili, dan lain sebagainya. Itulah guru, yang harus siap dengan masalah-masalah yang mungkin akan berbeda ditemui setiap harinya pada saat di kelas.
Semangat untuk para guru hebat!!!